BPOM dan Kemenpar Dorong Wisata Kesehatan Jadi Penggerak Ekonomi Nasional
- 25 Jun 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPOM dan Kementerian Pariwisata memperkuat kolaborasi pengembangan wellness tourism dan medical tourism sebagai sektor strategis ekonomi nasional
- Nilai pasar global wellness tourism diproyeksikan mencapai US$2,4 triliun dan medical tourism US$126,2 miliar pada 2035
- BPOM mendukung pengembangan wisata kesehatan melalui mekanisme SAS, pendampingan produk herbal, serta penguatan desa wisata
RRI.CO.ID, Jakarta - BPOM dan Kementerian Pariwisata berkomitmen memperkuat dukungan pengembangan wisata kesehatan melalui sektor ‘wellness tourism’ dan ‘medical tourism’. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan potensi ekonomi sektor kesehatan dan pariwisata nasional.
Wisata kesehatan (Health Tourism) dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Perkembangan industri wellness tourism dan medical tourism mendorong pentingnya sinergi berbagai pemangku kepentingan.
Secara global, nilai ekonomi wellness tourism diperkirakan mencapai US$1,08 triliun pada tahun 2026. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$2,4 triliun pada 2035 seiring pertumbuhan permintaan.
Sementara itu, pasar medical tourism diperkirakan tumbuh dari US$38,6 miliar pada 2026. Nilainya diproyeksikan meningkat menjadi US$126,2 miliar pada tahun 2035 mendatang.
“BPOM mendukung penuh pengembangan medical tourism Indonesia, namun, seluruh proses tetap dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian. Pengawasan ketat, dan jaminan mutu agar keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya dalam audiensi antara Kepala BPOM Taruna Ikrar dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana yang berlangsung di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.
Dalam mendukung medical tourism, BPOM memberikan akses khusus terhadap obat-obatan tertentu melalui mekanisme SAS. Fasilitas tersebut digunakan untuk menunjang layanan rumah sakit bertaraf internasional, termasuk di Bali.
Sejak Juni 2025, BPOM telah menerbitkan 19 persetujuan SAS untuk berbagai kebutuhan pelayanan kesehatan. Persetujuan tersebut mencakup obat antikanker dan imunoglobulin yang digunakan di kawasan tersebut.
Taruna menyebut Indonesia memiliki sekitar 6.261 desa wisata dengan tingkat perkembangan yang beragam. Jumlah tersebut terdiri atas 36 desa mandiri, 330 desa maju, 1.015 desa berkembang, dan 4.880 desa rintisan.
“Dapat menjadi pusat pengembangan produk jamu, herbal, dan pangan lokal yang aman serta bernilai ekonomi tinggi, BPOM siap melakukan pendampingan. Agar produk-produk tersebut memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Taruna.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyambut baik peluang penguatan kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan BPOM. Menurutnya, sinergi tersebut dapat mendukung pengembangan sektor wisata kesehatan yang terus menunjukkan pertumbuhan.
Widiyanti menilai tren wisata kesehatan di dunia semakin berkembang dan membuka peluang besar bagi Indonesia. Potensi tersebut didukung kekayaan jamu tradisional, layanan kesehatan modern, serta daya tarik alam dan budaya yang dimiliki Indonesia.
“Kita memiliki modal kuat untuk memimpin pasar ini. Indonesia dapat memadukan keunggulan jamu tradisional warisan leluhur dengan fasilitas medis modern yang didukung keindahan alam nusantara,” ujar Widiyanti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....