Perkuat Ekosistem Kebudayaan, Kemenbud Revitalisasi Rumah Sastra Ahmad Tohari
- 28 Jun 2026 20:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kebudayaan telah merevitalisasi 159 sarana dan prasarana budaya, termasuk Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari di Banyumas.
- Fadli Zon mendorong penguatan budaya melalui pusat literasi sebagai ruang belajar, berkarya, dan pelestarian budaya lintas generasi.
- Ahmad Tohari mengapresiasi revitalisasi perpustakaan yang dinilai mendorong meningkatnya kunjungan serta diskusi literasi masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah memperkuat ekosistem kebudayaan nasional melalui revitalisasi sarana budaya di berbagai daerah. Hingga saat ini, pemerintah telah merevitalisasi 159 sarana dan prasarana kebudayaan sebagai bagian dari upaya pemajuan budaya nasional.
Salah satu fasilitas yang diresmikan ialah Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari, Banyumas, Sabtu, 27 Juni 2026. Peresmian tersebut menambah daftar pusat kebudayaan yang diharapkan menjadi ruang pengembangan literasi dan pelestarian budaya masyarakat Indonesia.
"Selama dua tahun Kementerian Kebudayaan berdiri, di tengah efisiensi, kami tetap berusaha berkontribusi. Alhamdulillah sudah ada 159 revitalisasi sarana dan prasarana kebudayaan," katanya dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Minggu, 28 Juni 2026.
Ia menjelaskan revitalisasi mencakup situs cagar budaya, kantor kebudayaan, hingga pusat literasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi ruang belajar, berkarya, serta mengembangkan potensi generasi muda melalui aktivitas kebudayaan yang berkelanjutan.
Menurutnya, Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan budaya berbasis literasi. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat membaca sekaligus menjadi ruang berkumpul masyarakat lintas generasi secara berkelanjutan.
"Rumah Sastra Ahmad Tohari ini kami harapkan menjadi pusat literasi yang menginspirasi. Menjadi rumah baca yang hidup dan diramaikan oleh anak-anak, remaja, hingga masyarakat umum," ucapnya.
Ia menilai Banyumas memiliki kekayaan budaya yang lengkap, mulai dari karya Ahmad Tohari hingga bahasa Banyumasan atau ngapak. Daerah tersebut juga dikenal memiliki kesenian ebeg, calung, serta kuliner mendoan yang menjadi identitas budaya masyarakat setempat.
Menurutnya, seluruh kekayaan budaya tersebut layak terus dipromosikan sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional yang membanggakan Indonesia. Ia juga mengingatkan bahwa kebudayaan tidak boleh dipersempit hanya sebagai seni pertunjukan, melainkan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat.
"Saya selalu menyebut kontribusi Banyumas bagi Indonesia. Ada karya-karya Ahmad Tohari, bahasa ngapak, kemudian kesenian ebeg, calung, hingga mendoan sebagai bagian dari kekayaan budaya kita," ujarnya.
Sastrawan Ahmad Tohari menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan atas dukungan terhadap pemajuan kebudayaan melalui berbagai program berkelanjutan. Ia juga mengapresiasi revitalisasi sarana dan prasarana literasi yang dikelolanya sebagai upaya memperkuat budaya serta minat membaca masyarakat.
"Kami bersyukur perpustakaan ini semakin ramai dikunjungi. Banyak diskusi lintas generasi juga tumbuh dan berkembang melalui ruang literasi yang kami kelola," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....