Kawasan Transmigrasi Siap Jadi Lumbung Pangan dan Energi Nasional
- 25 Jun 2026 23:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan kawasan transmigrasi disiapkan menjadi sentra produksi pangan dan energi
- Program Kementrans tersebut untuk menopang agenda swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan petani dan nelayan memiliki peran historis dalam perjalanan bangsa
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan kawasan transmigrasi disiapkan menjadi sentra produksi pangan dan energi. Program Kementrans tersebut untuk menopang agenda swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hal diungkapkannya dalam Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo, pada Rabu 24 Juni 2026. Dalam arahannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan petani dan nelayan memiliki peran historis dalam perjalanan bangsa.
Menteri Iftitah menilai arahan Presiden tersebut sangat relevan dengan paradigma baru transmigrasi. Transmigrasi saat ini tidak lagi hanya dipahami sebagai perpindahan penduduk, tetapi sebagai strategi pembangunan kawasan produktif.
"Kawasan transmigrasi memiliki potensi besar dikembangkan sebagai sentra produksi pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan energi berbasis potensi lokal. Dengan dukungan infrastruktur, teknologi, kelembagaan ekonomi, dan sumber daya manusia unggul, kawasan transmigrasi dapat menjadi bagian penting," kata Menteri Iftitah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada Kamis 25 Juni 2026.
Melalui momentum PENAS XVII, Kementerian Transmigrasi menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan pembangunan kawasan transmigrasi dengan prioritas Presiden Prabowo Subianto. Khususnya dalam memperkuat swasembada pangan, swasembada energi, dan kesejahteraan rakyat di seluruh pelosok Indonesia.
"Sejak masa perjuangan kemerdekaan, petani dan nelayan telah menjadi kekuatan. Utama yang menopang kehidupan rakyat, pejuang, dan prajurit Indonesia," ucapnya.
Presiden menekankan bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada impor pangan. Menurut Presiden, kemerdekaan harus menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat kecil, khususnya petani dan nelayan yang menjadi tulang punggung bangsa.
Sejumlah capaian sektor pertanian turut disampaikan dalam kegiatan tersebut, antara lain penurunan harga pupuk sebesar 20 persen. Kemudian, meningkatan Nilai Tukar Petani hingga 127 persen, pertumbuhan sektor pertanian sebesar 5,74 persen, serta capaian produksi pangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....