Menko Pangan Hadiri Puncak PENAS XVII, Pemerintah Perkuat Swasembada Pangan

  • 26 Jun 2026 09:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menko Pangan Zulkifli Hasan menghadiri puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo
  • Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah menjaga swasembada pangan berkelanjutan
  • Puncak PENAS XVII dihadiri lebih dari 100 ribu petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian
  • Pemerintah mencatat NTP tertinggi dalam 34 tahun dan pertumbuhan sektor pertanian tertinggi dalam 25 tahun
  • Sinergi lintas kementerian terus diperkuat untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional

RRI.CO.ID, Gorontalo - Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo. Kegiatan itu memperkuat komitmen pemerintah mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.

Puncak PENAS XVII dihadiri lebih dari 100 ribu petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian. Kegiatan berlangsung di Kabupaten Gorontalo, Rabu 24 Juni 2026.

Kehadiran Menko Pangan menjadi bagian dari penguatan sinergi lintas pemangku kepentingan. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan nasional.

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo Subianto mengatakan persoalan pangan menjadi isu paling mendasar bagi setiap negara. Menurutnya, Indonesia kini semakin kuat menghadapi ancaman krisis pangan global.

"Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai ekspor. Kita membantu negara-negara lain," kata Presiden.

"Banyak negara meminta pupuk, beras, dan jagung dari kita. Ini menunjukkan kemampuan Indonesia semakin kuat," ucapnya.

Presiden mengungkapkan surplus pupuk Indonesia juga mendapat perhatian dunia internasional. Bahkan, Perdana Menteri Australia menghubunginya untuk membeli pupuk dari Indonesia.

"Saya ditelepon Perdana Menteri Australia. Beliau bertanya apakah bisa membeli pupuk dari Indonesia," katanya.

"Saya jawab silakan. Kirim saja ke mereka," ucap Presiden.

Meski demikian, Presiden mengingatkan keberhasilan sektor pertanian harus tetap berpihak kepada petani. Menurutnya, kesejahteraan petani tidak boleh diabaikan.

"Asal harganya benar. Petani jangan rugi," katanya.

Presiden juga menyoroti program B50 yang dijadwalkan diluncurkan pada Juli mendatang. Program tersebut diharapkan memperkuat hilirisasi pertanian sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.

Pada kesempatan yang sama, pemerintah memaparkan berbagai capaian sektor pertanian nasional. Nilai Tukar Petani mencapai 127 atau tertinggi dalam 34 tahun terakhir.

Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian juga mencapai 5,74 persen. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

Selain itu, ekspor sektor pertanian meningkat hingga Rp166 triliun. Sementara impor turun sebesar Rp41 triliun.

Berbagai capaian tersebut diperkirakan memberikan manfaat ekonomi sekitar Rp200 triliun bagi petani. Pemerintah juga terus memperkuat kebijakan pangan dari hulu hingga hilir.

Kementerian Koordinator Bidang Pangan terus mengoordinasikan berbagai kebijakan lintas kementerian dan lembaga. Langkah itu dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani serta nelayan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....