Seabad Jam Gadang, Menbud Fadli: Bukan Sekadar Penanda Waktu

  • 21 Jun 2026 20:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Peringatan 100 Tahun Jam Gadang menjadi momentum mengingat kembali perjalanan sejarah Indonesia, dari masa kolonial hingga era modern.
  • Menbud Fadli menegaskan Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga simbol sejarah dan identitas budaya masyarakat Minangkabau.
  • Perayaan satu abad Jam Gadang diharapkan memperkuat kesadaran sejarah dan pelestarian budaya, sekaligus menegaskan Bukittinggi sebagai pusat kebudayaan penting di Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Peringatan 100 Tahun Jam Gadang menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Bangunan bersejarah yang berlokasi di Bukittinggi ini dinilai memiliki makna lebih luas dibandingkan sekadar penunjuk waktu bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon saat menghadiri malam puncak peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Kegiatan itu berlangsung dalam acara Jam Gadang Cultural Night, Bukittinggi, Sabtu malam, 20 Juni 2026.

Menurutnya, Jam Gadang telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut mencakup masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga pembangunan nasional pada era modern.

"Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga penanda zaman," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Minggu, 21 Juni 2026. Ia menilai Jam Gadang memiliki nilai sejarah tinggi sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Minangkabau saat ini.

Ia turut mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam menyukseskan peringatan satu abad Jam Gadang tahun ini. Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan kepedulian bersama terhadap pelestarian sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia.

Ia mengatakan kebudayaan merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Indonesia sebagai negara multikultural. Keragaman budaya tersebut menjadi aset penting dalam memperkuat jati diri dan persatuan bangsa Indonesia.

"Kebudayaan adalah sumber kekuatan kita. Kita adalah negara yang memiliki keberagaman luar biasa. Termasuk Minangkabau dengan berbagai ekspresi dan nilai budayanya,” ujarnya.

Ia berharap peringatan 100 Tahun Jam Gadang tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Tetapi mampu memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya dan sejarah bangsa.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyebut rangkaian peringatan telah berlangsung sejak 3 Juni lalu. Seluruh kegiatan kemudian ditutup melalui penyelenggaraan malam puncak pada 20 Juni di Bukittinggi.

Menurut Ramlan, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan budaya bangsa. Momentum itu juga menegaskan peran Bukittinggi sebagai salah satu pusat kebudayaan penting di Indonesia.

"Ini merupakan malam puncak peringatan yang telah kita nantikan, kita akan meneguhkan kembali, dan melihat dunia sejarah. Ini akan memperkuat kecintaan kita terhadap budaya, dan menegaskan posisi Bukittinggi sebagai pusat kebudayaan penting di Indonesia," katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatra Barat, Vasko Ruseimy menyebut Jam Gadang tidak hanya menjadi ikon Bukittinggi. Tetapi juga simbol perjuangan dan perjalanan sejarah bangsa.

"Semoga dengan perayaan ini kisah-kisah perjalanan Jam Gadang sebagai saksi sejarah Republik Indonesia semakin dikenal," ujarnya. Momentum bersejarah ini bukan hanya perayaan berdirinya ikon kota, melainkan pengingat perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Rangkaian perayaan diisi berbagai kegiatan, mulai dari kompetisi fotografi, dan Festival Internasional Literasi Minangkabau. Adapun seminar internasional, pertunjukan seni budaya, hingga kuliner gratis untuk masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....