Elly Warti Maliki dan Mimpi Menghidupkan Kembali Surau di Ranah Minang
- 25 Mei 2026 06:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Elly Warti Maliki menilai perempuan Minang memiliki bekal adat dan kepercayaan diri kuat di perantauan
- Perjalanan pendidikan Elly menuju Al-Azhar Mesir berawal dari harapan sederhana sang ibunda
- Elly sempat menolak pendidikan agama karena lingkungan saat itu memandang sekolah agama sebelah mata
- Elly menggagas program “Surau Maimbau” untuk menghidupkan kembali pendidikan berbasis surau di Sumatra Barat
- Program “Samba” disiapkan untuk memperluas kemampuan bahasa Arab generasi muda hingga ke nagari-nagari
- Elly juga mengembangkan metode memahami Al-Qur’an melalui pembelajaran terjemah bertahap dan sederhana
MENJADI perempuan Minang bagi Elly Warti Maliki bukan sekadar identitas yang melekat sejak lahir. Nilai adat dan prinsip kehidupan Minangkabau justru menjadi pegangan utama sepanjang perjalanan hidupnya di perantauan.
Bagi Elly, perempuan Minang memiliki bekal kuat untuk menghadapi kehidupan di mana pun mereka berada sekarang. Kepercayaan diri itu menurutnya justru tumbuh dari adat yang menempatkan perempuan pada posisi terhormat dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, perempuan Minang dibentuk menjadi pribadi yang siap beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya mereka. “Kita sebagai orang Minang dan apalagi sebagai padusi (perempuan) Minang memang harus bangga jadi orang Minang,” kata Ketua Umum Wazin (Wihdah Azhariyah Indonesia) tersebut saat ditemui di Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2026.
“Bagaimana karakter seorang perempuan Minang, bagaimana perempuan didudukkan dalam kehidupan sosial. Jadi, itu memberikan kepercayaan diri kepada perempuan Minang, otomatisnya,” ucapnya.
Ia mengatakan nilai Minangkabau akan selalu ikut dibawa meskipun perempuan merantau hingga keluar negeri sekalipun. Prinsip ‘dima bumi dipijak, di situ langik dijunjuang’ menurut Elly menjadi dasar penting menghadapi lingkungan baru.
Baginya, perempuan Minang tidak hanya diajarkan bertahan, tetapi juga mampu mengambil peran dalam masyarakat luas. Karena itu, perempuan Minang dinilainya sering dipercaya menjadi penggerak, baik dalam kelompok kecil maupun besar.
Prinsip hidup itu pulalah yang perlahan membentuk perjalanan panjang Elly sejak usia muda hingga sekarang ini. Meski dikenal sebagai pakar fikih dan pimpinan organisasi perempuan alumni Universitas Al-Azhar Mesir, jalannya menuju pendidikan agama tidak berlangsung mudah.
Elly tumbuh pada masa ketika sekolah agama sering dipandang sebelah mata oleh banyak masyarakat perkotaan dahulu. Ia mengaku lingkungan saat itu membuat pendidikan agama dianggap tidak memiliki masa depan menjanjikan bagi generasi muda.
“Yang namanya agama itu kampungan, yang namanya agama itu orang-orang terbelakang yang belajar agama. Jadi masa-masa itu orang yang belajar di madrasah itu, gambarannya bahwa orang-orang yang enggak punya masa depan, gitu,” ujar Elly.
Gambaran tersebut, membuat dirinya sempat menolak melanjutkan pendidikan agama seperti harapan besar ibunya dahulu. “Gambarnya orang kolot, jadi anak-anak muda zaman itu enggak tertarik untuk masuk sekolah agama,” ucap tokoh wanita Minang itu.
Di tengah saudara-saudaranya yang memilih kedokteran, teknik, dan perbankan, Elly merasa jalannya sangat berbeda sendiri. Ia bahkan mengaku tidak pernah membayangkan akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agama di Indonesia.
Namun, ibunya tetap berharap ada seorang anak yang mendalami pendidikan agama dalam keluarga mereka nantinya. “Di antara tujuh ini adalah satu anak yang sekolah agama, terus siapa nanti yang ngajiin saya kalau saya meninggal,” ujar anak ke empat dari tujuh bersaudara ini mencontohkan permintaan sang ibunda tercinta.
Perjalanan hidup Elly ternyata tidak berhenti pada permintaan tersebut, dirinya kemudian dipulangkan menuju kampung halaman di Solok. Saat itu, orang tuanya ingin dirinya mengenal kampung sekaligus belajar mengaji bersama keluarga besar di sana.
Di kampung, Elly tinggal bersama keluarga dan menamatkan sekolah dasar hingga sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) selama dua tahun. Pengalaman hidup sederhana itu perlahan mendekatkannya dengan adat, keluarga, dan lingkungan pendidikan agama di kampung.
Ia dikenal sebagai murid berprestasi yang selalu memperoleh nilai terbaik selama menempuh pendidikan. Dari sanalah, kalimat tentang Mesir pertama kali muncul tanpa pernah benar-benar direncanakan sebelumnya.
“Dia mau sekolah PGA nih di sini soalnya nanti mau ke Mesir,” katanya menirukan ucapan mak tuo (kakak ibu) saat ditanya kepala sekolah dirinya melanjutkan ke mana. Kalimat itu kemudian terus melekat dalam ingatan Elly hingga perjalanan hidupnya berubah sepenuhnya.
Meski sempat melanjutkan kuliah jurusan Teknik Kimia di IKIP Rawamangun Jakarta, dirinya tetap didorong sekolah agama oleh ibunya. Hingga akhirnya, Elly mengucapkan keinginan sederhana yang kemudian membuka jalannya menuju negara Arab.
“Iya deh sekolah agama, tapi enggak mau di sini, maunya di Arab,” katanya mengenang masa tersebut. Keinginan spontan itu perlahan menjadi kenyataan ketika dirinya memperoleh kesempatan belajar di Mesir kemudian.
Saat pertama tiba di Mesir, Elly mengaku belum memahami bahasa Arab sama sekali dalam kehidupan sehari-harinya di sana. Namun, doa orang tua dan kerja keras membuatnya terus bertahan menyelesaikan pendidikan hingga tingkat doktoral.
Ia belajar bahasa Arab siang dan malam demi mampu mengikuti pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dengan baik. Kerja keras itu membawanya menyelesaikan pendidikan S1, S2, dan S3 dengan prestasi membanggakan di sana.
“Alhamdulillah saya akhirnya bisa menyelesaikan S1, S2, S3 di Al-Azhar dengan terakhir yudisium summa cumlaude. Disertasi saya berhak dicetak dan disebarluaskan,” ucapnya sambil senyum penuh kebanggaan.
Meski puluhan tahun hidup di luar negeri, ibu tiga anak tersebut tetap membawa nilai Minangkabau dalam kehidupan keluarganya sehari-hari. Ketiga anaknya lahir di luar negeri, namun tetap dibesarkan dengan adat dan budaya Minang di rumah.
Menurutnya, pewarisan budaya tidak cukup dilakukan melalui nasihat, tetapi harus hadir dalam kebiasaan hidup sehari-hari keluarga. Karena itu, dirinya tetap menggunakan bahasa Minang bersama anak-anak meskipun tinggal di negara Arab dahulu.
Pengalaman panjang hidup di perantauan kini mendorong Elly kembali membangun pendidikan berbasis surau di Sumatra Barat. Program tersebut diberi nama ‘Surau Maimbau’ yang menghubungkan kolaborasi pendidikan antara ranah dan rantau.
Bagi pakar fikih ini, surau memiliki peran penting membentuk karakter masyarakat Minangkabau sejak masa dahulu hingga sekarang ini. Karena itu, dirinya ingin menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat pendidikan generasi muda Minang.
Program pertama dalam gerakan tersebut bernama 'Sambba' yang berarti ‘Setiap Anak Muslim Bisa Bahasa Arab’. Melalui program itu, Elly ingin menghadirkan pembelajaran bahasa Arab hingga menjangkau surau-surau kecil di desa.
Ia mengatakan program tersebut akan dimulai secara bertahap pada beberapa nagari terlebih dahulu di Sumatra Barat. Setelah itu, program diharapkan berkembang luas melalui dukungan masyarakat dan pemerintah daerah setempat nantinya.
“Kita akan mulai dari desa-desa, dari surau-surau di desa,” katanya menjelaskan rencana pengembangan program tersebut. Menurutnya, pendidikan bahasa Arab harus hadir dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan hanya di kota besar.
Elly menilai banyak generasi muda Minang sebenarnya memiliki kemampuan dan keberanian bekerja di luar negeri. Namun, keterbatasan bahasa membuat banyak peluang pendidikan dan pekerjaan belum mampu dimanfaatkan secara maksimal, termasuk bahasa Arab.
Baginya, kemampuan bahasa Arab bukan hanya kebutuhan pendidikan agama, tetapi juga bekal menghadapi dunia kerja internasional sekarang. Ia melihat peluang pekerjaan di negara-negara Arab masih terbuka luas bagi generasi muda Indonesia saat ini.
“Kalau kita udah kasih bekal di bahasa Arab, Insya Allah mereka akan berani,” ujar pendiri Sekolah Islam Internasional yang diperuntukkannya untuk anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Jeddah tersebut. Karena itu, program bahasa Arab disusun agar mudah dipahami anak-anak sejak usia sekolah dasar nantinya.
Selain program ‘Sambba’, Elly juga mengembangkan program memahami Al-Qur’an melalui metode terjemah sederhana dan bertahap. Program tersebut disusun agar masyarakat mampu memahami isi Al-Qur’an langsung dari bahasa Arabnya.
Menurutnya, banyak masyarakat sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi belum memahami makna ayat secara utuh. Kondisi itulah yang mendorong dirinya menyusun metode pembelajaran berbasis potongan kaidah kecil dan sederhana.
“Kita membaca udah bagus, tahsinnya udah bagus, hafalannya udah bagus, tapi pemahaman kan masih jauh. Jadi kita berharap dengan program ini nanti orang baca Al-Qur’an langsung paham, nggak perlu nyari terjemah lagi,” kata Elly optimis.
Ia menyusun metode tersebut melalui lima jilid buku lengkap dengan workbook dan bahan latihan pembelajaran lainnya. Setiap kaidah dirancang agar langsung dapat diterapkan mulai dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An-Nas.
“Nah saya bikin di sini metode terjemah itu potongan-potongan kecil. Artinya satu kaedah bisa diterapkan mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas,” katanya menjelaskan konsep pembelajaran tersebut.
Baginya, bahasa harus dipelajari bertahap seperti benih yang tumbuh perlahan menjadi pohon kuat dan kokoh. “Jadi bahasa itu saya bikin kayak benih gitu, kalau biji kita tanam di dalam tanah dulu kan,” ucapnya.
“Terus kita siram, baru tunasnya keluar. Kita membangun dari akar, tunas, menjadi batang, kemudian ada cabang ranting, daun, baru ada buah, jadi dia kokoh bahasa itu,” ujar Elly.
Program tersebut kini mulai diterapkan bersama kelompok ibu-ibu melalui pembelajaran daring secara bertahap dan berkelanjutan. Selain itu, Elly juga mulai menjalin kerja sama dengan sejumlah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT).
Ia menyebut, seluruh guru pengajar dalam program tersebut berasal dari alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang telah dipersiapkan khusus. Mereka tidak hanya mengajarkan membaca bahasa Arab, tetapi juga kemampuan komunikasi sehari-hari secara langsung.
Elly mengatakan pembelajaran bahasa Arab selama ini sering tidak memiliki konsep pembelajaran yang kuat dan berkelanjutan. Karena itu, dirinya ingin membangun sistem pendidikan bahasa Arab yang lebih terarah sejak usia dini.
Baginya, pendidikan bahasa Arab harus mampu mendukung kebutuhan pendidikan, bisnis, diplomasi, hingga dunia pekerjaan internasional nantinya. Dengan cara itu, generasi muda diharapkan mampu bersaing dalam perkembangan global masa depan.
Untuk program ‘Surau Maimbau’ rencananya akan dimulai terlebih dahulu dari kampung halaman Elly sendiri di Solok nantinya. “Nagari ambo (saya) lah di Solok, kemarin udah ketemu Walikota, mudah-mudahan nanti ada kerja sama dengan Walikota,” kata wanita kelahiran Padang, 30 Oktober 1959 tersebut.
Di usia yang telah melewati banyak perjalanan panjang, Elly masih menyimpan harapan besar bagi kampung halamannya di Minangkabau. Dari surau-surau kecil di kampung, ia ingin membangun generasi yang memahami adat, ilmu, dan Al-Qur’an sekaligus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....