Alfarisi Kupas Perjalanan Riset Buku 'Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma'

  • 20 Jun 2026 19:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Buku Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma berawal dari riset yang dilakukan Alfarisi Thalib dan rekannya menjelang Pilpres 2024.
  • Alfarisi mengkaji pengaruh algoritma terhadap penyebaran informasi dan perilaku komunikasi politik masyarakat di ruang digital.
  • Buku ini juga menyoroti politik yang semakin dekat dengan industri atensi, yang berpotensi memengaruhi kualitas demokrasi dan memicu manipulasi opini publik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penulis Alfarisi Thalib mengungkapkan proses penyusunan buku 'Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma' dimulai menjelang Pilpres 2024. Riset awal dilakukan sekitar satu bulan sebelum pemungutan suara untuk mengamati dinamika informasi digital.

Ia mengatakan proses penulisan secara serius baru dilakukan pada awal tahun 2025 bersama rekannya. Keduanya kemudian memperdalam penelitian melalui pembacaan berbagai referensi terkait perkembangan algoritma dan komunikasi politik.

Menurutnya, penelitian tersebut dilakukan untuk memahami faktor yang membentuk perilaku pengguna media sosial. Kajian itu juga berupaya menjelaskan pengaruh algoritma terhadap penyebaran informasi pada ruang digital.

"Kami riset itu persis jelang pemilu presiden, sekitar sebulan sebelum pemilihan presiden itu kita mulai riset. Cuman kami mulai serius menulis secara konsisten dan fokus itu awal tahun 2025," ucapnya kepada RRI usai peluncuran buku 'Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma,' Gedung ICMI Center, Jakarta Selatan, Sabtu, 20 Juni 2026.

Ia menjelaskan judul awal buku yang disusun bersama rekannya sebenarnya menggunakan istilah 'Kuasa Algoritma'. Namun, keduanya kemudian mempertimbangkan kembali fokus kajian berdasarkan latar belakang akademik yang dimiliki masing-masing.

Ia menuturkan dirinya berasal dari disiplin ilmu politik, sementara rekannya memiliki latar belakang ilmu komunikasi. Pertimbangan tersebut mendorong perubahan judul agar lebih sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang dilakukan.

"Kami sempat menggunakan judul Kuasa Algoritma, tapi kemudian kami sadar kami bukan ahli teknologi. Saya kebetulan berlatar belakang ilmu politik, sahabat saya itu latar belakang ilmu komunikasi," ujarnya.

Ia menilai dinamika politik menjelang Pilpres 2024 menjadi salah satu alasan utama lahirnya penelitian tersebut. Menurutnya, masyarakat saat itu menghadapi kesulitan membedakan informasi asli dengan informasi palsu yang beredar.

Kondisi tersebut mendorongnya menelaah hubungan antara algoritma dan perilaku komunikasi politik masyarakat. Hasil kajian itulah yang kemudian menjadi fondasi utama penyusunan buku yang baru diluncurkan tersebut.

Rekan penulis buku Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma, Liza Fitriani Nurkholis, menyoroti perubahan pola komunikasi politik pada era digital. Menurutnya, politik kini semakin dekat dengan industri atensi yang mengutamakan perhatian publik.

Ia mengatakan banyak politisi mulai menerapkan strategi komunikasi yang menyerupai kreator konten di media sosial. Mereka berlomba menarik perhatian netizen melalui berbagai konten yang dirancang untuk memperoleh jangkauan luas.

"Politik saat ini semakin dekat dengan industri atensi yang mengutamakan perhatian publik melalui berbagai platform digital. Banyak politisi berlomba mencari perhatian netizen dengan strategi komunikasi yang menyerupai kreator konten," katanya.

Menurutnya, fenomena tersebut berpotensi memengaruhi kualitas demokrasi apabila tidak disikapi secara kritis oleh masyarakat. Risiko yang muncul antara lain menurunnya kualitas deliberasi publik serta meningkatnya manipulasi opini di ruang digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....