Pemimpin NU Hasil Muktamar ke-35 Diminta Dukung Keberlanjutan Prabowo-Gibran
- 19 Jun 2026 06:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemimpin NU Hasil Muktamar ke-35 Diminta Dukung Keberlanjutan Prabowo-Gibran
- Tokoh muda NU, Gus Lilur menilai pemimpin yang terpilih dalam Muktamar ke-35 harus mampu menjaga persatuan bangsa
- bentuk komitmen tersebut adalah mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
RRI.CO.ID, Jakarta – Tokoh muda NU, Gus Lilur menilai pemimpin yang terpilih dalam Muktamar ke-35 harus mampu menjaga persatuan bangsa. Menurutnya, bentuk komitmen tersebut adalah mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Gus Lilur mengatakan, Muktamar tidak hanya menentukan arah organisasi, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan kebangsaan. Karena itu, para peserta muktamar diminta memilih pemimpin yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
“Demi persatuan bangsa. Pemimpin NU harus seseorang yang mendukung keberlanjutan pemerintahan Prabowo-Gibran,” kata Gus Lilur dalam keterangannya, Kamis 18 Juni 2026.
Menurutnya, pemerintahan Prabowo-Gibran telah menjadi titik temu berbagai kelompok yang sebelumnya terpolarisasi. Ia menyebut rivalitas politik maupun gesekan antarkelompok dapat diminimalkan melalui kepemimpinan yang mengedepankan persatuan nasional.
Gus Lilur menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan yang ditunjukkan para pendiri bangsa saat menyepakati Piagam Jakarta. Ia menilai keputusan para tokoh Islam saat itu menjadi contoh menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.
“Semangat Piagam Jakarta adalah memilih kepentingan yang lebih besar. Yaitu, demi menjaga keutuhan republik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar Muktamar NU ke-35 tidak menjadi ajang perebutan kekuasaan. Menurutnya, pengalaman Muktamar NU ke-34 di Lampung harus menjadi pelajaran agar organisasi tidak kembali terseret konflik internal.
“Muktamar ini adalah ujian sejarah bagi NU. Yang dipertaruhkan bukan hanya kepemimpinan organisasi, tetapi juga masa depan umat dan bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Gus Lilur menyatakan dukungannya kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU. Sementara posisi Rais Aam dinilainya layak diisi ulama senior KH Said Aqil Siradj.
Menurut dia, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman yang dapat memperkuat peran NU. Baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Mereka adalah ulama dan cendekiawan yang memiliki rekam jejak panjang. Serta mampu membawa NU semakin berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....