Petani Waspadai Penurunan Produksi saat Puncak Kemarau 2026

  • 18 Jun 2026 23:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memprediksi puncak kemarau terjadi Juli–September 2026.
  • Kemarau berpotensi mengganggu produksi pangan nasional.
  • Tanaman padi menjadi komoditas paling rentan terdampak kekeringan.
  • SPI memperkirakan hasil panen bisa turun hingga 20 persen.
  • Kementan memperkuat irigasi dan penggunaan varietas tahan kekeringan.

RRI.CO.ID, Jakarta – BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dari normal.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan produksi pangan nasional. Petani di sejumlah daerah juga mulai melaporkan dampak kekeringan sejak Mei 2026.

Kepala Badan Pengkajian Penerapan Agroekologi dan Perbenihan Pusat SPI, Kusnan, mengatakan tanaman padi menjadi komoditas paling rentan. Tanaman tersebut membutuhkan pasokan air lebih banyak dibanding komoditas lainnya.

"Tentu tanaman padi ya, tanaman pangan. Nah, ini kan dia membutuhkan air yang lebih banyak sehingga ketika kekurangan air tentu produktivitasnya akan menurun,” kata Kusnan dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Kamis, 18 Juni 2026.

Menurutnya, laporan kekeringan telah diterima dari NTT, NTB, sebagian Pulau Jawa, dan Sumatera. SPI juga mengantisipasi dampak kemarau melalui penerapan agroekologi dan diversifikasi tanaman.

"Bisa sampai kurang 20 persen biasanya, ini juga pengalaman tahun sebelumnya, tahun 2018 kalau nggak salah. Kita sebagai petani merasa merugi sehingga tingkat kerugiannya penurunan sampai 20-30 persen lagi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan petani didorong menanam jagung, singkong, ubi jalar, dan sorgum. Tanaman tersebut dinilai lebih tahan terhadap cuaca panas dan kekeringan.

Sementara itu, Penyeluh Pertanian Ahli Utama Pusluhtan Kementan, Prof. Deddy Nursyamsi, mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi. Fokus utama diarahkan pada penyediaan air bagi lahan pertanian.

“Jadi yang pertama itu adalah masalah irigasi, pertanian itu kan pasti perlu air, perlu irigasi, nah sekarang, irigasi kita itu sebagian besar memang masih mengandalkan curah hujan. Curah hujannya berkurang, berarti irigasi berkurang, berarti potensi pengurangan produksi juga sangat tinggi, oleh karena itu harus diantisipasi,” ujarnya.

Deddy menjelaskan Kementerian Pertanian memperkuat program irigasi suplementer melalui pompanisasi, perpipaan, embung, dan dam parit. Program tersebut diprioritaskan di wilayah yang berisiko tinggi mengalami kekeringan.

Selain irigasi, pemerintah mendorong penggunaan varietas tahan kekeringan dan pemupukan berimbang. Langkah itu dilakukan untuk menjaga produksi pangan dan mendukung ketahanan pangan nasional selama musim kemarau 2026. (Sarah Maulida Ali)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....