Antisipasi Kemarau, Petani Diminta Susun Jadwal Tanam Lebih Awal

  • 10 Jun 2026 17:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Petani diminta memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang dengan memanfaatkan data curah hujan dan prediksi musim.
  • Tarsono menilai musyawarah desa, informasi stok air irigasi, serta pencocokan data iklim dengan kondisi lokal menjadi kunci menentukan jadwal tanam yang tepat.
  • DKPP Kota Madiun mendorong percepatan masa tanam untuk mengurangi risiko kekeringan, penurunan produksi, hingga gagal panen saat puncak kemarau Agustus–September mendatang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Petani diminta memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih kering tahun ini. Upaya pencegahan dinilai penting untuk mengurangi risiko penurunan produksi pertanian akibat berkurangnya ketersediaan air.

Anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim, Tarsono mengatakan petani perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak awal musim tanam. Menurutnya, kondisi iklim yang cenderung kering harus direspons melalui perencanaan yang lebih matang.

"Petani ini sudah dibiasakan untuk antisipasi musim kemarau beberapa bulan ke depan. Kadang-kadang adaptif, maka kita sebagai petani peneliti ini sudah dibiasakan untuk antisipasi tersebut," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 10 Juni 2026.

Ia menjelaskan pengumpulan data curah hujan menjadi salah satu langkah awal dalam menentukan strategi pertanian. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan kondisi cuaca dan kebutuhan air selama masa tanam berlangsung.

Selain memanfaatkan data iklim, petani juga didorong memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Langkah tersebut dinilai membantu penyusunan rencana tanam yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan.

"Informasi curah hujan dan prediksi musim menjadi dasar penting dalam menyusun langkah antisipasi pertanian. Petani perlu memadukan data ilmiah dengan kondisi lokal agar keputusan yang diambil lebih tepat," ujarnya.

Di tingkat desa, antisipasi musim kemarau dilakukan melalui musyawarah sebelum pelaksanaan kegiatan tanam dimulai. Forum tersebut menjadi sarana untuk menyepakati jadwal tanam berdasarkan berbagai pertimbangan teknis.

Menurutnya, pertemuan tersebut turut melibatkan pihak pengairan untuk menyampaikan kondisi cadangan air irigasi. Informasi ketersediaan air menjadi acuan penting dalam menentukan pola tanam selama musim kemarau.

"Sebelum tanam itu, kita musyawarah desa, artinya untuk menentukan jadwal tanam. Untuk menentukan jadwal tanam ada beberapa komponen yang perlu ditempuh," ucapnya.

Selain itu, petani juga mencocokkan prediksi musim dengan data lokal yang telah dikumpulkan sebelumnya. Pendekatan tersebut dipadukan dengan pengetahuan musim tradisional serta pemantauan potensi serangan hama tanaman.

Ia menilai kombinasi berbagai sumber informasi dapat meningkatkan kesiapan petani menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Dengan langkah antisipasi yang baik, risiko kerugian akibat kemarau panjang diharapkan dapat diminimalkan.

Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun mendorong petani di wilayah setempat untuk mempercepat masa tanam. Terutama setelah panen guna mengantisipasi puncak musim kemarau yang berpotensi kekeringan.

Kepala Bidang Pertanian DKPP Kota Madiun, Niken Febrianti mengatakan percepatan tanam menjadi strategi penting untuk mengurangi penurunan produksi. Sehingga gagal panen akibat berkurangnya ketersediaan air di lahan pertanian.

"Jika waktu tanam tepat, saat musim kemarau datang tanaman sudah memasuki masa panen. Sehingga dampaknya bisa diminimalkan," ujarnya.

Menurutnya, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September mendatang. Karena itu, petani di Kota Madiun diminta memanfaatkan ketersediaan air yang masih cukup saat ini untuk memulai musim tanam lebih awal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....