Kemarau Makin Meluas, BMKG Bongkar Anomali Cuaca di Indonesia
- 18 Jun 2026 12:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, musim kemarau terus meluas di berbagai wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2026.
- Namun, BMKG membongkar sebuah anomali cuaca, karena sejumlah daerah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi akibat pengaruh dinamika atmosfer.
- Meskipun kondisi kering semakin mendominasi sebagian wilayah Indonesia bagian selatan, beberapa wilayah di Indonesia bagian utara masih mengalami hujan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, musim kemarau terus meluas di berbagai wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2026. Namun, BMKG membongkar sebuah anomali cuaca, karena sejumlah daerah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi akibat pengaruh dinamika atmosfer.
BMKG mengatakan, kondisi atmosfer di Indonesia, khususnya wilayah bagian selatan, semakin menunjukkan karakteristik musim kemarau. Situasi tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan di sejumlah daerah.
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah mengalami periode tanpa hujan. Yakni, dalam kategori menengah hingga sangat panjang.
"Durasi hari tanpa hujan di beberapa wilayah bahkan mencapai 31 hingga 60 hari berturut-turut. Kondisi ini sejalan dengan perkembangan musim, sebanyak 33,3 persen wilayah Zona Musim (233 ZOM) di Indonesia memasuki musim kemarau," kata BMKG dalam laporan resminya, di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
BMKG menjelaskan, meluasnya musim kemarau berpotensi memicu sejumlah dampak. Mulai dari meningkatnya risiko kekeringan meteorologis hingga berkurangnya ketersediaan air di sejumlah daerah.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai perubahan suhu udara yang lebih ekstrem. Cuaca cenderung terasa lebih panas pada siang hari dan lebih dingin saat malam hingga pagi hari.
Meski kondisi kering mulai mendominasi wilayah Indonesia bagian selatan, BMKG menegaskan potensi hujan belum sepenuhnya hilang. Sejumlah daerah di Indonesia bagian utara justru masih mengalami curah hujan yang cukup tinggi.
"Meskipun kondisi kering semakin mendominasi sebagian wilayah Indonesia bagian selatan, beberapa wilayah di Indonesia bagian utara masih mengalami hujan. Dengan intensitas ringan hingga sangat lebat," ucap BMKG.
Data BMKG menunjukkan beberapa wilayah masih mencatat curah hujan tinggi pada periode 11-14 Juni 2026. Sumatra Barat menjadi daerah dengan curah hujan tertinggi mencapai 139 mm per hari.
Selain Sumatra Barat, hujan lebat juga tercatat di Papua dengan 94 mm per hari dan Riau sebesar 89 mm per hari. Curah hujan tinggi juga terjadi di Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat.
BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin yang masih aktif di sejumlah wilayah Indonesia. Kedua fenomena atmosfer tersebut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan yang cukup intens.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif. Di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatra," ujar BMKG.
Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra dan sekitar Selat Makassar turut memperkuat pembentukan awan hujan. Fenomena tersebut menciptakan daerah konvergensi dan belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.
"Pengaruh gelombang atmosfer dan dinamika regional tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan," kata BMKG.
BMKG memperkirakan jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau akan terus bertambah pada Dasarian III Juni 2026.
Sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
Kondisi tersebut diperkuat oleh perkembangan El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menunjukkan kecenderungan fase hangat dengan intensitas moderat.
Indeks Niño 3.4 tercatat berada di angka +0,81, sementara Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -24,3. Meski demikian, BMKG menegaskan peluang hujan masih tetap terbuka dalam beberapa hari ke depan.
"Faktor atmosfer regional dan lokal masih mampu memicu pembentukan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi-kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut," ucap BMKG.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....