BNPB Pastikan Gempa M6,7 di Sigi Tak Picu Tsunami, Bantah Isu Air Surut di Teluk Palu
- 17 Jun 2026 15:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BNPB memastikan gempa magnitudo 6,7 di Kabupaten Sigi merupakan gempa darat yang tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
- Fenomena air surut yang terlihat di Teluk Palu dan beberapa wilayah lain disebut sebagai pasang surut normal, bukan dampak gempa.
- Hingga Selasa pagi tercatat 118 gempa susulan, sementara masyarakat diminta waspada terhadap bangunan rusak dan tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan gempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Sigi, Sulawesi Tengah, tidak memicu tsunami. Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya video di media sosial yang mengaitkan fenomena air surut di Teluk Palu dengan gempa tersebut.
BNPB mencatat gempa yang terjadi merupakan gempa darat dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Lokasi pusat gempa yang berada di daratan membuat peristiwa tersebut tidak memiliki potensi tsunami.
“Gempa darat ini karena dia juga agak jauh di daratan, tidak di pinggir laut, sehingga ini tidak berpotensi tsunami. Sekali lagi ini tidak berpotensi tsunami dan tidak ada tsunami yang terjadi kemarin di Palu,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers BNPB, Selasa, 17 Juni 2026.
Menurutnya, fenomena air surut di Teluk Palu maupun beberapa wilayah lain merupakan siklus pasang surut air laut yang normal. BNPB menegaskan kondisi tersebut tidak memiliki hubungan dengan aktivitas gempa yang terjadi di Kabupaten Sigi.
“Kita pastikan itu adalah fenomena pasang surut biasa atau tidak ada kaitannya dengan fenomena gempa yang terjadi di Sigi. Jadi sekali lagi gempa darat magnitude 6,7 kemarin tidak menimbulkan tsunami,” ujarnya.
BNPB juga menemukan sejumlah video kerusakan bangunan yang beredar luas di media sosial ternyata tidak berasal dari wilayah terdampak gempa. Karena itu masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi pascabencana.
Aam mengimbau masyarakat tetap mengandalkan informasi resmi dari BMKG, BNPB, maupun pemerintah daerah. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghindari kepanikan akibat informasi yang belum terverifikasi.
Di sisi lain, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi setelah gempa utama mengguncang wilayah Sigi. Hingga Selasa pagi, BMKG mencatat sudah terjadi 118 gempa susulan dengan kekuatan yang bervariasi.
“Gempa-gempa susulan ini ada yang kekuatannya cukup signifikan. Ada beberapa gempa yang cukup berasa, ada magnitude 4, magnitude 4,2, dan seterusnya,” katanya.
Meski demikian, BNPB menjelaskan gempa susulan tersebut merupakan bagian dari proses pelepasan atau peluruhan energi pascagempa utama. Fenomena ini diperkirakan masih dapat dirasakan masyarakat dalam beberapa hari hingga satu pekan ke depan.
BNPB meminta warga yang rumahnya mengalami retak atau kerusakan struktur untuk tidak memaksakan diri kembali menempati bangunan tersebut. Kerusakan yang ditemukan sebaiknya segera dilaporkan kepada BPBD atau aparat setempat agar dapat ditindaklanjuti lebih lanjut.
“Bagi masyarakat yang rumahnya terdampak dari gempa utama kemarin, kalau ada retakan atau ada kerusakan struktur sebaiknya segera dilaporkan. Bisa kepada BPBD setempat atau personil desa setempat untuk bisa mendapatkan penanganan,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....