BPS: Harga Cabai Rawit Masih Tinggi Pekan Kedua Juni
- 17 Jun 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPS mencatat harga cabai rawit nasional mencapai Rp69.973 per kilogram pada pekan kedua Juni 2026
- Harga cabai rawit telah melampaui HAP konsumen dan masih berada pada level tinggi di berbagai daerah
- Sebanyak 185 kabupaten dan kota mengalami kenaikan harga cabai rawit
- Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Halmahera Barat, dan Halmahera Utara menjadi daerah dengan harga cabai rawit tertinggi
- Pemerintah menilai distribusi menjadi tantangan utama dan mendorong pembentukan sentra produksi baru untuk menekan biaya logistik serta menjaga stabilitas harga
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai rawit masih berada pada level tinggi hingga pekan kedua Juni 2026. Secara nasional, harga rata-rata cabai rawit mencapai Rp69.973 per kilogram.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan harga cabai rawit saat ini telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen. Kondisi tersebut terjadi meski kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tidak setinggi komoditas pangan lainnya.
"Cabai rawit secara rata-rata nasional Rp69.973 per kilogram. Ini yang juga masuk dalam kategori IPH-nya tidak terlalu tinggi tetapi level harganya sudah tinggi," kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin 15 Juni 2026.
Menurut Amalia, sebanyak 185 kabupaten dan kota mengalami kenaikan harga cabai rawit. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
BPS mencatat sejumlah daerah mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi. Kabupaten Halmahera Utara menjadi salah satu daerah dengan harga cabai rawit tertinggi yang mencapai Rp116.667 per kilogram.
"Halmahera Utara itu harga cabai rawitnya menyentuh rata-rata Rp116.000 per kilogram. Kondisinya 104,68 persen di atas HAP," ucapnya.
Selain itu, Kabupaten Halmahera Barat mencatat harga cabai rawit sebesar Rp121.111 per kilogram. Harga tersebut berada 112,48 persen di atas HAP yang ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan data BPS, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro menjadi daerah dengan harga cabai rawit tertinggi. Harga komoditas tersebut tercatat mencapai Rp125.556 per kilogram hingga pekan kedua Juni 2026.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menilai distribusi menjadi salah satu penyebab tingginya harga bawang merah dan cabai di sejumlah daerah. Menurutnya, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan komoditas tersebut, namun masih menghadapi tantangan dalam pemerataan pasokan.
Tito mengatakan kenaikan harga bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit masih terjadi meski Indonesia telah swasembada. Karena itu, pemerintah mendorong pembentukan sentra produksi baru di berbagai daerah.
"Kemudian memang yang menjadi tantangan kita adalah bagaimana agar bawang merah, cabai merah, cabai rawit. Kita swasembada, tapi jadi kenaikan," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah.
Menurut Tito, selama ini produksi bawang merah masih terkonsentrasi di sejumlah daerah seperti Jawa Tengah. Kondisi tersebut menyebabkan biaya distribusi meningkat ketika pasokan harus dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.
| Baca juga: BPS: Cabai Merah Naik di Pekan Kedua Juni |
"Bawang merah ini sentranya kan di Jawa Tengah. Kemudian baru distribusi ke seluruh Indonesia, mengakibatkan ada tambahan ongkos transportasi yang membuat terjadi kenaikan harga," ucapnya.
Hal serupa juga terjadi pada cabai merah dan cabai rawit. Padahal, menurut Tito, banyak daerah memiliki potensi untuk mengembangkan komoditas tersebut.
"Semua perlu ada sentra-sentra baru. Perlu diatur karena sebetulnya semua daerah bisa melakukan menanam cabai," ucapnya.
Tito mencontohkan kondisi di Aceh yang memiliki kawasan penghasil cabai melimpah di wilayah Gayo. Namun, hasil panen kerap terlebih dahulu dikirim ke Medan sebelum kembali dipasarkan ke sejumlah daerah di Aceh.
Akibat rantai distribusi yang panjang tersebut, harga cabai menjadi lebih mahal di tingkat konsumen. Menurut Tito, harga dapat ditekan apabila distribusi dilakukan langsung dari sentra produksi ke daerah tujuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....