Kalpataru Jadi Kunci Bangun Kesadaran Lingkungan di INVIROTECH 2026

  • 11 Jun 2026 22:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rangkaian kegiatan Envirotech 2026 dilakukan dengan adanya pemberian Penghargaan Kalpataru kepada 16 pejuang lingkungan
  • Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mengatakan, berbagai inovasi dan teknologi hijau yang dipamerkan dalam INVIROTECH 2026 harus berjalan

RRI.CO.ID, Jakarta — Rangkaian kegiatan Envirotech 2026 dilakukan dengan adanya pemberian Penghargaan Kalpataru kepada 16 pejuang lingkungan. Hal ini menjadi pengingat bahwa upaya penyelamatan lingkungan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesadaran masyarakat.

Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mengatakan, berbagai inovasi dan teknologi hijau yang dipamerkan dalam INVIROTECH 2026 harus berjalan. Dan harus beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Menurutnya, teknologi lingkungan memang menjadi solusi penting untuk menjawab berbagai tantangan. Mulai dari pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran, hingga perlindungan ekosistem pesisir dan laut.

“Kalau orang sadar, dia akan bertindak. Untuk menjadi sadar harus diberikan informasi. Karena itu peran para penerima Kalpataru dan media menjadi penting dalam membangun kesadaran masyarakat,” ujar Jumhur di JICC, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.

Ia mencontohkan persoalan sampah laut yang sebagian besar berawal dari aktivitas manusia di daratan. Karena itu, inovasi teknologi yang dikembangkan pemerintah dan berbagai pihak perlu didukung oleh partisipasi aktif masyarakat.

Salah satu contoh nyata peran masyarakat ditunjukkan oleh Marshela Wahyu Muntia (18), penerima Kalpataru Youth Award 2026 asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Melalui komunitas Warsa Kelana yang didirikannya sejak usia 15 tahun, Marshela berhasil menggerakkan puluhan anak muda untuk melakukan restorasi lahan kritis.

Salah satunya di kawasan utara Bengawan Solo. Bersama 25 hingga 50 relawan, ia secara rutin melakukan penanaman pohon dan rehabilitasi lahan.

“Saya melihat banyak peternak sapi di sekitar tempat tinggal saya. Limbahnya belum termanfaatkan, sehingga saya mencoba mengolahnya menjadi pupuk organik untuk membantu penyuburan tanah,” katanya.

Di era digital, Marshela juga aktif memanfaatkan media sosial dan platform daring untuk menyebarkan edukasi lingkungan kepada generasi muda. Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan mengakses informasi, melainkan mengubah informasi tersebut menjadi aksi nyata.

Sementara penerima Kalpataru 2026 juga didapati Komang Astika, dari Desa Pemuteran, Bali. Ia mengungkapkan bahwa gerakan konservasi yang ia lakukan berawal dari kondisi desanya yang mengalami kerusakan lingkungan cukup parah.

“Terumbu karang di Pemuteran saat itu banyak yang hancur karena pengeboman dan penggunaan potasium untuk menangkap ikan. Akibatnya, hasil tangkapan menurun dan masyarakat kehilangan sumber penghidupan,” ujar Komang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Komang bersama masyarakat mengembangkan restorasi terumbu karang menggunakan teknologi Biorock. Teknologi ini memanfaatkan aliran listrik bertegangan rendah untuk mempercepat proses pertumbuhan karang dan menciptakan habitat yang lebih sehat.

“Melalui teknologi Biorock, pertumbuhan karang menjadi lebih cepat dan kuat dibandingkan secara alami. Ketika terumbu karang pulih, ikan kembali berkembang biak dan ekosistem laut menjadi lebih sehat,” katanya.

Menurut Komang, keberhasilan pemulihan ekosistem laut tidak hanya memberikan manfaat lingkungan. Tetapi juga mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Pemerintah berharap kolaborasi antara inovator teknologi, pegiat lingkungan, dunia usaha, dan masyarakat dapat mempercepat pembangunan berkelanjutan. Dan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....