Legislator: Koeksistensi Jadi Kunci Mengelola Konflik Global

  • 26 Jul 2026 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti mengatakan dunia perlu mengubah cara pandang dalam menghadapi konflik
  • Negara-negara, menurutnya, tidak lagi dapat hanya mengejar kemenangan mutlak atas pihak lain
  • Azis menilai keterhubungan ekonomi, teknologi, energi, dan informasi membuat dampak konflik tidak berhenti di wilayah peperangan

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti mengatakan dunia perlu mengubah cara pandang dalam menghadapi konflik. Negara-negara, menurutnya, tidak lagi dapat hanya mengejar kemenangan mutlak atas pihak lain.

Azis menilai keterhubungan ekonomi, teknologi, energi, dan informasi membuat dampak konflik tidak berhenti di wilayah peperangan. Perselisihan di satu kawasan dapat memengaruhi harga energi, perdagangan, keamanan digital, dan kehidupan masyarakat di negara lain.

“Semua pihak dapat menyerang. Tetapi semakin sedikit pihak yang mampu menang secara mutlak,” kata Azis dalam catatan bertajuk “Dari Paradigma Kemenangan Menuju Paradigma Koeksistensi”, Minggu, 26 Juli 2026.

Ia mencontohkan penggunaan drone berbiaya rendah yang dapat merusak fasilitas bernilai tinggi. Serangan siber juga dapat melumpuhkan pelayanan publik dan sistem keuangan tanpa melibatkan serangan militer secara langsung.

Karena itu, menurut Azis, keamanan global tidak cukup hanya dibangun melalui kekuatan dan dominasi. Dunia membutuhkan kemampuan mengelola persaingan agar tidak berkembang menjadi kehancuran bersama.

“Koeksistensi bukanlah akhir persaingan. Ia bukan utopia yang menghapus perbedaan,” ujarnya.

Koeksistensi, kata dia, berarti mengakui bahwa lawan tidak selalu dapat dihilangkan. Namun, persaingan dapat ditempatkan dalam aturan yang memungkinkan seluruh pihak tetap bertahan dan menjalankan kepentingannya.

Pandangan tersebut dinilai relevan dengan situasi global saat ini. Ketegangan Amerika Serikat–Iran di sekitar Selat Hormuz masih memengaruhi keamanan kawasan, sementara berbagai negara kembali mendorong penghentian perang Rusia–Ukraina melalui jalur diplomasi.

Selain konflik bersenjata, Azis menyebut perubahan iklim, pandemi, keamanan siber. Dan perkembangan kecerdasan buatan sebagai tantangan bersama.

PBB pada awal Juli 2026 juga menyelenggarakan Dialog Global Tata Kelola Kecerdasan Buatan di Jenewa. Forum itu menjadi wadah bagi negara dan pemangku kepentingan untuk membangun pendekatan bersama terhadap perkembangan AI.

Azis berharap masyarakat internasional dapat memperluas kerja sama lebih cepat. Dibandingkan perkembangan kemampuan untuk saling menghancurkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....