Pasar Keuangan Domestik Tertekan, DPR Minta Pemerintah Ambil Langkah Darurat
- 09 Jun 2026 11:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pasar keuangan domestik dihantam gelombang tekanan jual masif pada awal pekan ini. Menanggapi situasi kritis tersebut, anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Jafar meminta, pemerintah dan otoritas moneter untuk segera mengambil langkah darurat.
- Pelemahan rupiah yang sangat dalam dan amblesnya IHSG ini adalah sinyal bahaya. Pemerintah harus segera melakukan intervensi pasar yang tepat
- Sentimen investor memegang kendali besar, ketika pelaku pasar melihat pemerintah punya strategi mitigasi yang jelas tekanan terhadap rupiah bisa diredam.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pasar keuangan domestik dihantam gelombang tekanan jual masif pada awal pekan ini. Menanggapi situasi kritis tersebut, anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Jafar meminta, pemerintah dan otoritas moneter untuk segera mengambil langkah darurat.
Langkah darurat itu, kata politikus PKB ini, harus diambil dengan cepat, cerdas, dan terukur. Semua itu, demi memulihkan kepercayaan (trust) pasar yang mulai goyah.
"Pelemahan rupiah yang sangat dalam dan amblesnya IHSG ini adalah sinyal bahaya. Pemerintah harus segera melakukan intervensi pasar yang tepat, kondisi darurat seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut," kata Marwan dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Mantan Mendes PDTT ini menilai, kejatuhan IHSG dipicu oleh tingginya kepanikan investor yang memicu aksi jual massal. Jika sentimen negatif ini dibiarkan, risiko penarikan dana asing secara besar-besaran (capital outflow) akan semakin memperpuruk nilai tukar.
Bagi Marwan, faktor psikologis pasar dan kepastian regulasi jauh lebih menentukan stabilitas ekonomi saat ini. Dibandingkan, dengan sekadar data fundamental di atas kertas.
“Sentimen investor memegang kendali besar, ketika pelaku pasar melihat pemerintah punya strategi mitigasi yang jelas tekanan terhadap rupiah bisa diredam. Sebaliknya, jika ketidakpastian dipelihara, pasar keuangan kita bisa lumpuh,” ucap Marwan.
Kemudian, Marwan mengingatkan, krisis di sektor keuangan ini bukan sekadar angka di papan saham. Melainkan, bom waktu bagi masyarakat kecil yang sewaktu-waktu bisa meledak mendadak.
Melemahnya rupiah ke level Rp18.000-an akan langsung mengerek biaya impor bahan baku industri. Kondisi ini, dinilainya memicu inflasi harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar.
“Semakin cepat kepercayaan pasar dipulihkan, semakin besar peluang kita melindungi masyarakat dari dampak ekonomi yang lebih luas. Pemerintah harus hadir dengan langkah yang meyakinkan, bukan sekadar menenangkan dengan retorika," ujar Marwan.
Diketahui, Kondisi pasar modal dan nilai tukar dilaporkan memburuk secara signifikan. Pada penutupan perdagangan Senin, 8 Juni 2026, IHSG anjlok parah hingga 4 persen (merosot 246 poin) ke level 5.349.
Selaras dengan itu, nilai tukar rupiah kian lunglai. Nilai tukar rupiah pada Senin kemarin, menembus angka Rp18.176 per dolar AS.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....