Rupiah Menguat pada Pembukaan Perdagangan, tetapi Masih Rentan Pelemahan

  • 09 Jun 2026 11:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rupiah terpantau naik 0,09 persen atau 16 poin ke level Rp18.171 per dolar AS, meskipun tekanan faktor eksternal berpotensi untuk membuatnya turun.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa 9 Juni 2026. Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,09 persen atau 16 poin ke level Rp18.171 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, rupiah turun 0,84 persen atau 151 poin menjadi Rp18.187 per dolar AS. Meskipun demikian, rupiah masih rawan tertekan karena sejumlah faktor eksternal dan internal.

“Kemungkinan meningkatnya inflasi AS mendorong ekspektasi naiknya suku bunga The Fed," kata analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana. Menurut dia, kebijakan suku bunga bank sentral AS itu kemungkinan akan diikuti Bank Indonesia (BI).

“BI mungkin akan kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur bulan ini,” ucapnya. Di sisi lain, aksi jual saham oleh investor juga masih berlangsung sehingga terus terjadi aliran keluar modal asing.

Fikri memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp18.190 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS terpantau bergerak pada rentang 99,94-100,06.

Kondisi rupiah ini ditopang kenaikan signifikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 7,27 persen. Sementara itu, imbal hasil SBN tenor dua tahun juga naik menjadi 7,19 persen.

“Kenaikan imbal hasil ini tidak lepas dari koordinasi kebijakanantara BI dan Kementerian Keuangan,” kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. Menurut dia, ini merupakan upaya menarik kembali arus modal asing dengan meningkatkan daya tarik rupiah bagi investor portofolio.

Rully mengatakan dampaknya ke rupiah memang masih terbatas dan tidak realistis berharap isu berlangsung dalam hitungan hari. Ini karena tekanan global tetap dominan, terutama konflik AS–Iran yang mendorong harga minyak lebih tinggi.

“Pada saat yang sama, Indonesia juga masih perlu memperkuat komunikasi kebijakan,” ucapnya. Menurut Rully, hal ini diperlukan untuk mengurangi risk premium yang sudah naik secara signifikan.

Mirae Asset Sekuritas mencatat credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun, sudah meningkat di atas 100 basis poin. "Ini mencerminkan masih tingginya kekhawatiran investor terhadap kerentanan domestik meskipun valuasi obligasi semakin menarik,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....