BGN: Kantin Sekolah Bisa Jadi Alternatif Dapur MBG

  • 08 Jun 2026 20:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala BGN Nanik S Deyang mengatakan, kantin sekolah dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • BGN juga membuka peluang penggunaan fasilitas yang sudah tersedia seperti dapur umum.
  • Alternatif ini merupakan bagian dari strategi efisiensi agar pelaksanaan Program MBG tidak sepenuhnya mengandalkan pembiayaan APBN.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mengatakan kantin sekolah dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Khususnya, di wilayah yang memiliki jumlah penerima manfaat relatif sedikit.

Menurut Nanik, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya efisiensi pelaksanaan program. Agar tidak selalu bergantung pada pembangunan dapur baru.

“Kantin sekolah bisa digunakan, terutama di daerah yang jumlah muridnya tidak banyak. Jadi tidak harus membangun dapur baru,” kata Nanik kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin 8 Juni 2026.

Ia menjelaskan konsep tersebut dapat diterapkan di daerah terpencil maupun kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sebagai contoh, Nanik menyebut sebuah sekolah di Lombok Barat yang hanya memiliki 119 siswa sehingga pembangunan dapur khusus dinilai kurang efektif.

“Misalnya di Lombok Barat, saya pernah ke satu pulau yang muridnya hanya 119. Kan tidak mungkin juga didirikan dapur, tetapi di situ ada kantin. Jadi bisa digunakan,” ujarnya.

Selain memanfaatkan kantin sekolah, BGN juga membuka peluang penggunaan fasilitas yang sudah tersedia. Seperti dapur umum yang dibangun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Nanik mencontohkan sebuah pulau di Raja Ampat yang memiliki sekitar 115 siswa dan telah memiliki dapur umum dari program CSR Pertamina. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyediaan makanan bergizi bagi siswa.

“Nah, kita bisa gunakan juga. Jadi ada alternatif-alternatif, tidak harus membangun dapur baru di wilayah 3T,” katanya.

Ia menegaskan berbagai alternatif tersebut merupakan bagian dari strategi efisiensi agar pelaksanaan Program MBG tidak sepenuhnya mengandalkan pembiayaan dari APBN. “Ini bagian efisiensi supaya tidak semuanya menggunakan APBN,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nanik juga menanggapi informasi mengenai sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang disebut menghentikan layanan akibat dana operasional belum dicairkan.

Menurutnya, sebagian informasi yang beredar tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan. BGN, kata Nanik, telah melakukan pencairan dana secara bertahap sejak Jumat pekan lalu dan berlanjut pada Senin.

“Jumat itu sudah dicairkan. Yang Senin ini juga dicairkan. Tadi kalau tidak salah kami dapat laporan Rp5 triliun yang dicairkan hari ini, jadi tidak ada masalah, ini masalah teknis saja,” kata Nanik.

BGN optimistis berbagai skema pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia dapat memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis. Sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran, terutama di wilayah dengan jumlah penerima manfaat yang terbatas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....