Angkat Keteladanan KH Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Leader
- 05 Jun 2026 12:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Angkat Keteladanan KH Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Leader
- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong pesantren harus mampu melahirkan generasi unggul dalam kepemimpinan dan memiliki kapasitas manajerial
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong pesantren harus mampu melahirkan generasi unggul dalam kepemimpinan dan memiliki kapasitas manajerial. Menurutnya hal ini penting untuk menjawab tantangan zaman.
Menurut Menag, pesantren memiliki karakter keilmuan yang khas dan tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan lainnya. Karena itu, penguatan Direktorat Jenderal Pesantren harus diarahkan untuk memperkuat identitas, tradisi keilmuan, dan keunggulan dalam pendidikan nasional.
"Pesantren memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang khas. Keunggulan itu harus terus diperkuat agar pesantren mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman," ujar Menag saat memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Penguatan Direktorat Jenderal Pesantren melalui Bedah Buku KH. Abdul Wahab Hasbullah (Pendiri NU, Penggerak NKRI), di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Menag mengangkat sosok KH. Abdul Wahab Hasbullah. Ia dinilai sebagai teladan kepemimpinan pesantren yang berhasil memadukan visi besar dengan kemampuan mengelola organisasi secara efektif.
Menurutnya, KH. Abdul Wahab Hasbullah tidak hanya dikenal sebagai pemimpin pergerakan yang memiliki pengaruh luas. Tetapi juga figur yang mampu membangun dan mengelola organisasi secara profesional.
"Pesantren ke depan tidak cukup hanya melahirkan figur pemimpin yang kharismatik. Pesantren juga harus melahirkan pengelola yang profesional, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan lembaga," ujarnya.
Menag mencontohkan Rasulullah SAW sebagai figur ideal yang memadukan kepemimpinan dan manajemen dalam satu pribadi. Model kepemimpinan semacam itulah, yang menurutnya perlu menjadi inspirasi bagi pengembangan pesantren di Indonesia.
Selain itu, Menag juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi nasionalisme yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren. Ia menilai pesantren memiliki kontribusi besar dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus membangun karakter kebangsaan masyarakat Indonesia.
Hal yang sama disampaikan Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said. Ia menjelaskan, kegiatan bedah buku ini merupakan ikhtiar memperkuat peran pesantren sekaligus menghidupkan kembali warisan pemikiran para ulama.
Menurut Basnang, momentum pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren menjadi tonggak penting dalam sejarah pengembangan pesantren di Indonesia. Kehadiran Ditjen Pesantren merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Sekaligus bentuk penguatan kelembagaan bagi lebih dari 42 ribu pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. "Pesantren kini memiliki penguatan kelembagaan yang lebih kuat untuk mendukung pengembangan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat," ujar Basnang.
Ia menambahkan, Direktorat Pesantren saat ini tengah menyusun arah pengembangan pesantren untuk sepuluh tahun ke depan. Fokus pengembangan diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekosistem dakwah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pembenahan sistem pendataan pesantren.
Basnang juga menegaskan bahwa data Kementerian Agama menunjukkan jumlah santri secara nasional tidak mengalami penurunan signifikan. Tantangan yang dihadapi lebih banyak berkaitan dengan sistem pendataan, khususnya pesantren yang memiliki sekolah dan madrasah.
Bedan buku ini mendapatkan apresiasi dari perwakilan keluarga besar KH. Abdul Wahab Hasbullah, Hizbiyah Rochim Wahab. Ia mengatakan bahwa pemikiran dan perjuangan KH. Wahab Hasbullah tetap relevan hingga saat ini.
Menurutnya, pendiri NU tersebut mewariskan teladan kepemimpinan yang mampu merangkul perbedaan serta memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan. Terlebih yang paling penting mengutamakan kemaslahatan umat.
"Generasi muda perlu terus diperkenalkan pada keteladanan para ulama pendiri bangs. Agar memiliki pijakan yang kuat dalam menghadapi tantangan masa depan," ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, KH. Khoirul Fuad, menilai kajian pemikiran para ulama pendahulu penting. Hal ini untuk menjaga tradisi intelektual pesantren sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....