DPR Dorong Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Berkelanjutan

  • 03 Jun 2026 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menilai pertumbuhan sektor ekonomi kreatif (ekraf) nasional perlu diimbangi dengan pembangunan ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan
  • Ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh para pelaku industri kreatif
  • Menurut Hendry, capaian sektor ekonomi kreatif sepanjang 2025 hingga semester pertama 2026 patut diapresiasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menilai pertumbuhan sektor ekonomi kreatif (ekraf) nasional perlu diimbangi dengan pembangunan ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh para pelaku industri kreatif.

Menurut Hendry, capaian sektor ekonomi kreatif sepanjang 2025 hingga semester pertama 2026 patut diapresiasi. Terutama dari sisi investasi dan kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren positif.

"Pertumbuhan ekonomi kreatif memang sangat menggembirakan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah apakah ekosistemnya juga tumbuh sehat dan mampu mendukung keberlanjutan para pelaku kreatif," kata Hendry Munief, Rabu, 3 Juni 2026.

Dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Disebutkan investasi sektor ekonomi kreatif pada triwulan I 2026 mencapai Rp11,33 triliun, dengan nilai ekspor sebesar 7,38 miliar dolar AS.

Hendry menilai angka tersebut menunjukkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Namun, menurutnya masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian agar pertumbuhan sektor tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Salah satu persoalan yang disorot adalah maraknya pembajakan digital yang masih merugikan para kreator dan pelaku industri kreatif. Ia menyebut praktik streaming ilegal dan pembajakan konten berbayar masih menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan industri kreatif nasional karena berpotensi mengurangi pendapatan para kreator.

Selain itu, Hendry juga menyoroti persoalan kesejahteraan pekerja kreatif yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari upah yang rendah, jam kerja yang panjang, hingga ketidakpastian pekerjaan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga dinilai mulai mengubah lanskap industri kreatif.

Teknologi tersebut telah digunakan dalam berbagai bidang seperti desain, ilustrasi, animasi, hingga produksi konten digital. Karena itu, Hendry mengingatkan pentingnya menyiapkan strategi yang tepat agar transformasi teknologi dapat menjadi peluang peningkatan produktivitas tanpa mengurangi ruang kerja bagi para pelaku industri kreatif di Indonesia.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pelaku ekonomi kreatif menjadi kunci untuk membangun ekosistem yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Sekaligus melindungi keberlanjutan profesi kreatif di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....