Rupiah Melemah, ASITA Sebut Wisata NTT Tidak Otomatis Meningkat

  • 02 Jun 2026 23:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua DPD ASITA NTT Abed Frans menilai pelemahan rupiah tidak otomatis meningkatkan kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Timur.
  • Peningkatan wisatawan tetap bergantung pada permintaan pasar dan kebutuhan wisatawan mancanegara.
  • Menurut Abed, wisatawan asing juga memahami kondisi pelemahan nilai tukar rupiah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Nusa Tenggara Timur (DPD ASITA NTT) Abed Frans mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah tidak otomatis meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTT. Kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan permintaan pasar dan kebutuhan wisatawan mancanegara.

Menurutnya, wisatawan asing juga memahami kondisi nilai tukar rupiah saat ini. Karena itu, pelaku pariwisata perlu cermat menyusun strategi dan melakukan negosiasi.

"Kalau bilang untuk pelemahan rupiah meningkatkan tourisme di NTT tidak juga. Dalam industri pariwisata itu harus sesuai dengan request dari tamunya, mereka juga tahu bahwa rupiah ini melemah," ujar Abed saat dihubungi RRI, Selasa, 2 Juni 2026.

Abed menjelaskan pelaku usaha pariwisata kerap mendapat tekanan untuk memberikan harga serendah mungkin. Kondisi tersebut harus disikapi secara hati-hati agar tidak berdampak pada kualitas pelayanan wisata.

Ia menilai operator wisata perlu melakukan perhitungan yang matang sebelum menerima permintaan pasar. Pelayanan yang minim akibat tekanan harga dikhawatirkan menimbulkan dampak jangka panjang bagi destinasi wisata.

"Kadang-kadang kami ditekan untuk mendapatkan harga semurah-murahnya. Tapi kalau dengan harga yang begitu murahnya dan pelayanan yang seminimum mungkin, itu akan menimbulkan dampak di kemudian hari," kata Abed.

Abed mengingatkan pelaku pariwisata tidak hanya mempertimbangkan tingginya nilai dollar terhadap rupiah. Setiap keputusan bisnis harus memperhitungkan berbagai kendala yang mungkin muncul di lapangan.

Menurutnya, pelemahan rupiah dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri pariwisata. Karena itu, pelaku usaha perlu menjaga keseimbangan antara harga dan kualitas layanan.

"Jangan berpikir bahwa dollar ini begitu tingginya di hadapan rupiah lantas kita mau saja atas permintaan market overseas. Kita harus berhitungan juga dengan hal-hal yang kira-kira akan menjadi obstacle untuk kita," ucap Abed

Abed mengatakan kondisi yang terjadi di Jakarta belum sepenuhnya terlihat di NTT. Menurutnya, wisatawan di Labuan Bajo masih lebih banyak menyampaikan keluhan terkait harga dibanding meningkatkan belanja wisata.

Meski demikian, ASITA NTT berharap tren positif tersebut juga dapat dirasakan di daerahnya. Peningkatan minat wisatawan terhadap produk dan layanan lokal diharapkan mampu mendukung pertumbuhan pariwisata daerah.

"Kalau untuk di Jakarta seperti itu saya suka, saya senang. Tapi kalau di Labuan Bajo, di NTT belum," ujar Abed.

Sebelumnya, wisatawan Malaysia yang sempat viral karena merasa diuntungkan saat berbelanja di Indonesia. Nilai tukar ringgit yang lebih kuat membuat wisatawan dapat membeli lebih banyak barang dan oleh-oleh.

Sementara itu, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini melaporkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan. Angka tersebut naik 14,75 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 7,22 persen secara tahunan.

Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan. Capaian tersebut meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Dengan demikian, secara total jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1,25 juta atau naik 14,75 persen secara bulanan. Sedangkan secara tahunan naik 7,22 persen," ujar Pudji.

Pudji mengatakan wisatawan pemegang paspor Malaysia menjadi kelompok terbanyak dengan porsi 16,65 persen. Posisi berikutnya ditempati wisatawan Australia sebesar 12,65 persen dan Tiongkok sebesar 10,73 persen.

Menurut BPS, capaian kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga April 2026 merupakan yang tertinggi sejak 2020. Kunjungan terbanyak tercatat melalui Bandar Udara Ngurah Rai, Bali.

"Kunjungan Wisman paling banyak dilakukan oleh wisatawan yang memegang paspor Malaysia yaitu 16,65 persen. Kemudian yang kedua adalah Australia yaitu 12,65 persen dan yang ketiga adalah Tiongkok 10,73 persen," kata Pudji.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....