Gencatan Senjata AS-Iran Gagal, Rupiah Melemah ke Rp17.839 per Dolar AS

  • 02 Jun 2026 17:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah ditutup turun 0,19 persen atau 34 poin menjadi Rp17.839 per dolar AS
  • Upaya damai AS-Iran jadi antiklimaks saat Iran menyatakan menangguhkan negosiasi dengan AS. Sementara Presiden Trump masih berharap negosiasi berlanjut untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz
  • Dari dalam negeri, pasar mencermati data statistik terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), hari ini. Diantaranya data inflasi bulan Mei 2026, secara tahunan inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,19 persen atau 34 poin ke level Rp17.839 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah upaya damai AS-Iran berujung antiklimaks. Iran menyatakan menangguhkan negosiasi dengan AS, sementara Presiden Donald Trump masih berharap perundingan dapat dilanjutkan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

“Presiden AS Donald Trump pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Sementara kantor berita Tasnim, Iran menyebutkan bahwa Teheran telah menangguhkan negoasisi langsung dengan Washington,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa, 2 Juni 2026.

Sementara itu, Lebanon juga melaporkan gencatan senjata parsial antara zionis Israel dengan Hizbullah. Gencatan senjata ini diharapkan dapat menahan serangan zionis Israel yang berkelanjutan ke wilayah Lebanon.

Di sisi lain, Presiden Trump menandatangani pernyataan perubahan tarif untuk impor tembabaga, aluminium dan besi. Trump menurunkan tarif impor untuk beberapa alta pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen.

“Tarif 15 persen untuk peralatan bergerak seperti buldoser dan forklift. Jika diimpor dari negara-negara yang memiliki pernjanjian dagang dengan AS,” kata Ibrahim.

Dari dalam negeri, pasar mencermati data statistik terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), hari ini. Diantaranya data inflasi bulan Mei 2026, secara tahunan inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen

“Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026,” ujar Ibrahim. Secara bulanan inflasi pada bulan Mei sebesar 0,28 persen, dengan inflasi tahun Kalender tercatat 1,35 persen.

BPS juga melaporkan neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus hingga April 2026. Sehingga neraca perdagangan mengalami surplus selama 72 bulan berturut turut.

Secara kumulatif pada Januari-April 2026 surplus mencapai mencapai USD5,64 miliar. Surplusnya lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai USD11,07 miliar.

Aktivitas manufaktur Indonesia (PMI) kembali naik ke zona ekspansi di level 50 pada Mei 2026. Pada bulan sebelumnya, PMI manufaktur Indonesia terkontraksi ke level 49,1.

“Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak. Serta gangguan pasokan yang menahan laju produksi,” ucap Ibrahim.

Peningkat PMI manufaktur utamanya ditopang oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru. “Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari,” ucap Ibrahim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....