Sehari Menguat, Rupiah Anjlok Lagi pada Pembukaan Perdagangan Hari Ini
- 02 Jun 2026 09:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Setelah sehari sebelumnya rupiah menguat ke posisi Rp18.805 per dolar AS
- Hari ini, berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun tajam 0,44 persen atau 78 poin. Nilai tukar rupiah terpantau anjlok ke level Rp17.883 per dolar AS
- Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong memprakirakan rupiah masih berisiko melemah hari ini. "Risiko tersebut disebabkan dolar AS yang menguat merespon pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS
RRI.CO.ID, Jakarta- Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Pada Senin kemarin, secara tak terduga, rupiah menguat 0,43 persen atau 76 poin menjadi Rp17.805 per dolar AS.
Hari ini, berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun tajam 0,44 persen atau 78 poin. Nilai tukar rupiah terpantau anjlok ke level Rp17.883 per dolar AS
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong memprakirakan rupiah masih berisiko melemah hari ini. "Risiko tersebut disebabkan dolar AS yang menguat merespon pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS," kata Lukman, Selasa, 2 Juni 2026.
Selain itu, Iran berencana untuk sepenuhnya menutup Selat Hormuz. "Penguatan dolar AS juga didukung oleh data manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan," ucap Lukman.
Ia memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.800-17.900 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS berada di level 99,20.
Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa juga menilai rupiah masih dalam tekanan dolar AS. Sepanjang bulan Mei 2026, rupiah sudah terdepresiasi sebesar 3,1 persen, sedangkan dolar AS sudah turun ke level 99.
"Ini mencerminkan masih tingginya ketidakpastian eksternal. Serta masih ada permintaan valas musiman terkait repatriasi dividen dan kebutuhan Haji," ujar Jessica.
Sebagai respons, BI terus melakukan langkah stabilisasi melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN). Imbal hasil SBN tenor 2 tahun naik ke 6,7 persen, yield tenor 10 tahun terjaga 6,72 persen.
"Sehingga kurva yield menjadi semakin datar dan memperkuat pandangan kami terkait kebijakan suku bunga BI. BI kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di level 5,25 hingga akhir 2026," kata Jessica.
Kebijakan itu untuk menjaga daya tarik yield dan mendukung aliran modal masuk. meskipun prospek Rupiah yang lebih stabil berpotensi muncul pada semester kedua tahun ini seiring meredanya tekanan musiman.
Implementasi aturan baru penempatan DHE SDA juga dapat memperkuat likuiditas valas domestik. Sehingga dapat membantu mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....