Wamendikdasmen: Bahasa Daerah Harus Masuk Ekosistem Kecerdasan Buatan

  • 28 Mei 2026 14:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menyoroti pentingnya teknologi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah Indonesia.
  • Wamendikdasmen Atip Latipulhayat mengatakan, bahasa daerah harus masuk ekosistem kecerdasan buatan dan ruang digital.
  • Pengembangan teknologi Large Language Model (LLM) penting mendukung penggunaan bahasa daerah secara luas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyoroti pentingnya teknologi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah Indonesia. Menurutnya, bahasa daerah harus masuk ekosistem kecerdasan buatan dan ruang digital.

Untuk itu, lanjut dia, pengembangan teknologi Large Language Model (LLM) penting mendukung penggunaan bahasa daerah secara luas. “Bahasa daerah harus masuk ekosistem AI agar tetap relevan,” ujar Atip pada Puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional di Gedung Garuda PPSDM Kemendikdasmen, dikutip Kamis, 28 Mei 2026.

Dalam kesempatan itu, ia juga meminta bahasa daerah harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pelestarian bahasa tidak cukup melalui seremoni tahunan semata.

Untuk itu, ia meminta sekolah memperkuat penggunaan bahasa daerah dalam pembelajaran harian. “Jika hanya menjadi pelajaran, bahasa daerah akan menjadi kenangan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyebut festival bagian program Revitalisasi Bahasa Daerah. Program tersebut melibatkan pelatihan guru hingga festival tingkat provinsi.

Ia menilai keberagaman bahasa menjadi kekuatan penting bangsa Indonesia. “Tahun ini pendidikan nasional semakin ramah terhadap keberagaman,” kata Hafidz.

Ratusan anak muda berkumpul di Depok, Jawa Barat, mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional. Mereka membawa semangat menjaga bahasa daerah tetap hidup di tengah perkembangan teknologi digital.

Festival tersebut berlangsung pada 22 hingga 26 Mei 2026 di Depok. Kegiatan itu diselenggarakan Badan Bahasa Kemendikdasmen dalam rangka Hardiknas 2026.

Festival menjadi bagian program pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah nasional. Pemerintah ingin bahasa ibu terus diwariskan kepada generasi muda Indonesia.

Festival menghadirkan 137 peserta terbaik dari 36 provinsi di Indonesia. Mereka mewakili 105 bahasa dan dialek daerah dari berbagai wilayah.

Peserta menampilkan tembang, pidato, dongeng, hingga seni pertunjukan kreatif daerah masing-masing. Festival juga menjadi ruang pertemuan budaya generasi muda lintas daerah.

Salah satu peserta, Rahmi Oktavia, siswi kelas IX SMPN 1 Rambah Hilir, mengatakan, generasi muda harus bangga menggunakan bahasa daerah sehari-hari. “Melalui festival ini, kami belajar melestarikan bahasa sekaligus menghargai keberagaman,” ujar Rahmi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....