Wamenkomdigi Menegaskan Regulasi AI Tidak Bisa Dibuat Secara Reaksioner

  • 25 Mei 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, regulasi AI tidak dapat disusun secara reaksioner
  • Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut, penyusunan regulasi tata kelola AI harus mempertimbangkan berbagai aspek termasuk etika dan norma

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan, regulasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak dapat disusun secara reaksioner. Hal ini diungkapkannya, agar AI dapat diadopsi oleh berbagai sektor meski AI terus berkembang dengan pesat.

Meski demikian ia menyatakan, pemerintah tengah menyiapkan tata kelola AI yang adaptif, untuk mampu mengikuti laju inovasi teknologi. Wamenkomdigi menegaskan, penyususnan regulasi tata Kelola AI itu, tidak mengkesampingkan keamanan publik dan ruang digital nasional.

"Karena teknologi berkembang begitu cepat, kita tidak boleh latah dan tidak boleh juga teknologi itu diatur secara reaksioner. Teknologi masih terus mencari bentuk ketika diadopsi di sektor kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga layanan keuangan," kata Nezar dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Lebih lanjut diungkapkan Wamenkomdigi, bahwa pemerintah menerapkan pendekatan hosrizontal dalam penyusunan regulasi. Hal ini ditegaskannya, dengan mengedepankan prinsip dan norma yang lebih dahulu sebelum diterapkannya di masing-masing sektor.

Langkah ini dikatakan Nezar, agar regulasi tetap relevan terhadap perkembangan teknologi yang sangat cepat. Terlebih lagi ia menyebut agar regulasi itu juga dapat melindungi berbagai dampak negatif di ruang digital.

"Penggunaan teknologi digital bisa berdampak baik, tetapi juga bisa buruk. Ada kejahatan digital, penipuan daring, cyber bullying, hingga hoaks dan disinformasi yang harus kita hadapi bersama," ujarnya.

Di samping itu, Wamenkomdigi Nezar juga turut menyoroti perkembangan AI yang menjadi arena persaingan global. Namun demikian ditegaskannya, negara-negara di Asia, harus terus mengembangkan AI, untuk keseimbangan pemanfaatan teknologi AI dunia.

"Persaingan memenangkan teknologi AI sedang terjadi sangat gencar. Ada Amerika, China, Eropa, dan negara-negara Asia yang terus bergerak mengembangkan artificial intelligence," kata Nezar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....