BNPT Dorong Penguatan Literasi Digital Cegah Radikalisme Daring
- 25 Mei 2026 18:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menilai penguatan literasi digital, kontra narasi
- Serta peningkatan daya tahan masyarakat menjadi langkah penting dalam menghadapi pola radikalisasi baru yang berkembang melalui media sosial dan platform digital
- Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan penyebaran paham radikal kini tidak lagi hanya terjadi di ruang nyata
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menilai penguatan literasi digital, kontra narasi. Serta peningkatan daya tahan masyarakat menjadi langkah penting dalam menghadapi pola radikalisasi baru yang berkembang melalui media sosial dan platform digital.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan penyebaran paham radikal kini tidak lagi hanya terjadi di ruang nyata. Tetapi juga berlangsung melalui perang narasi di ruang digital yang menyasar generasi muda.
“Jangan sampai kita kalah kuat dengan narasi-narasi kelompok teror. Target mereka adalah anak-anak muda kita,” ujar Eddy, Senin, 25 Mei 2026.
Menurut Eddy, perkembangan teknologi dan media sosial membuat penyebaran ideologi radikal berlangsung lebih cepat dan masif. Sehingga perlu diantisipasi melalui penguatan edukasi serta ketahanan masyarakat di ruang digital.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BNPT bersama Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggelar bedah buku berjudul Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital. Buku itu membahas transformasi pola terorisme modern, mulai dari proses radikalisasi, propaganda digital, hingga strategi pencegahan berbasis kolaborasi lintas sektor.
Sementara itu, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Dedi Prasetyo mengatakan arus informasi global yang bergerak sangat cepat. Membuat ancaman keamanan kini semakin sulit dipisahkan antara konteks global dan lokal.
“Fenomena ancaman saat ini saling berkaitan dan berpotensi ditiru dengan cepat karena pengaruh media sosial, jaringan ideologi. Dan dinamika sosial masyarakat,” ucapnya.
Ia menegaskan perubahan pola ancaman harus diikuti perubahan strategi penanganan, termasuk memperkuat kemampuan deteksi dini, pencegahan. Serta peningkatan ketahanan masyarakat terhadap pengaruh radikalisme.
Di sisi lain, Kepala Densus 88 Antiteror Polri Sentot Prasetyo menyebut penyebaran paham radikal kini telah memasuki ruang paling pribadi. Dalam kehidupan masyarakat melalui perangkat digital dan media sosial.
“Medan pertempuran telah berpindah dari hutan belantara. Menuju layar sentuh di ruang keluarga,” ujar Sentot.
Menurut dia, proses radikalisasi saat ini kerap memanfaatkan kondisi psikologis, pencarian identitas, hingga algoritma digital untuk memengaruhi pengguna media sosial.
BNPT bersama Polri menegaskan penguatan literasi digital dan kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan nasional menghadapi ancaman ekstremisme berbasis kekerasan di era digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....