BNPT Rehabilitasi 112 Anak yang Terpapar Radikalisme Terorisme dari Game Online
- 03 Mei 2026 11:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kepala BNPT, Komjen Pol (Purn), Eddy Hartono mengatakan, telah merehabilitasi 112 anak yang terpapar paham radikalisme terorisme dari permainan daring
- BNPT terapkan metode pendekatan emosional dalam merehabilitasi 112 anak terpapar paham radikalisme terorisme
- Fitur komunikasi platform Roblox dimanfaatkan untuk menjaring anak-anak dalam paham radikalisme terorisme
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah merehabilitasi 112 anak yang terpapar paham radikalisme dan terorisme. Hal itu disampaikan Kepala BNPT, Komjen Pol (Purn), Eddy Hartono, saat ditemui di Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
Proses rehabilitasi itu dijelaskannya, dengan metode pendekatan terhadap orang-orang terdekat. Selain dari pihak keluarga, bahkan pendekatan itu juga dilakukan terhadap tokoh-tokoh yang kenal dan dekat dengan masing-masing anak tersebut.
Selain untuk menghilangkan paparan paham radikalisme dan terorisme dari anak, namun juga untuk menetralisir orang-orang di sekitarnya. Eddy menuturkan rehabilitasi 112 anak itu, dilakukan bersama lintas sektor kementerian/badan negara.
"Kita lakukan upaya rehabilitasi. Jadi, kita deketin orang tuanya, deketin gurunya, deketin apa tokoh-tokoh yang ada di rumahnya itu. Jadi, pokoknya lingkungan terdekat anaknya dulu yang kita upayakan, supaya jangan sampai mereka ini lanjut terpapar," kata Eddy kepada wartawan, dikutip di Jakarta, Sabtu, 2 Mei 2026.
Sebelumnya dijelaskan Kepala BNPT, ke-112 anak itu, terpapar paham radikalisme dan terorisme, disaat anak sedang bermain game online. Bahkan secara spesifiknya Eddy mengatakan, permainan game online yang dimainkan anak-anak tersebut yakni platform Roblox.
Diungkapkannya, ke-112 anak itu terpapar paham radikalisme dan terorisme, karena melakukan komunikasi langsung antar pemain yang tidak dikenalinya. Fitur komunikasi dalam gim tersebut dijadikan kesempatan para pelaku, untuk melakukan pendekatan emosional.
"Disinilah yang bisa dijadikan sarana, kalau istilah kami adalah digital grooming. Baru nanti diundang keluar di platform yang lain, disitulah baru kalau bahasa psikologisnya itu kan normalisasi perilaku, artinya disitu baru diisi doktrin-doktrin," imbuhnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....