Rita Pranawati Tekankan Pentingnya Penguatan Mental untuk Pelajar Indonesia

  • 22 Mei 2026 12:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rita Pranawati menekankan pentingnya membangun mental kuat agar generasi muda tetap berakar pada identitas bangsa dan tidak tergerus budaya asing di era globalisasi.
  • Kemendikdasmen menilai penguatan karakter, nilai kebangsaan, dan pendidikan inklusif penting untuk memastikan seluruh anak Indonesia mendapat kesempatan belajar tanpa diskriminasi.
  • Psikolog Klinis RSUI Sherly Saragih Turnip menyebut masalah kesehatan mental remaja meningkat, dengan isu dominan berupa mood disorder, perilaku berisiko, dan kesepian pada kelompok usia muda.

RRI.CO.ID, Jakarta - Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Rita Pranawati menekankan pentingnya membangun mental kuat bagi generasi muda. Menurutnya, hal tersebut diperlukan agar generasi muda tetap berakar pada identitas bangsa di tengah arus globalisasi.

Menurutnya, mental yang kuat tercermin dari kemampuan generasi muda untuk tetap bangga menjadi Indonesia tanpa tergerus pengaruh budaya asing. Ia menilai penguatan karakter dan nilai kebangsaan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

"Mental yang kuat adalah keteguhan untuk tetap berakar pada identitas bangsa dan tidak tergerus arus asing. Tetapi tetap menjadi pribadi Indonesia," ujarnya kepada wartawan usai acara National Symposium: 70 Tahun Antarbudaya AFS, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Jumat, 22 Mei 2026.

Ia mengatakan program pertukaran pelajar yang dijalankan AFS Indonesia tidak hanya berfokus pada pengalaman global. Tapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik.

Menurutnya, para alumni program tersebut tidak hanya menjadi warga global. Tetapi juga duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia di mata dunia.

Ia menilai mental kuat membuat generasi muda mampu beradaptasi di lingkungan internasional tanpa kehilangan jati diri. "Mereka bisa bergaul dengan siapa pun dan di mana pun, tetapi tetap bangga menjadi Indonesia," katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya misi pendidikan yang berpihak kepada seluruh anak Indonesia tanpa diskriminasi. Ia mengatakan pendidikan harus membawa manfaat dan kesempatan belajar bagi semua peserta didik.

"Misi yang lurus adalah tekad bahwa pendidikan harus membawa kebaikan bagi semua tanpa kecuali. Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan berkembang," ucapnya.

Menurutnya, prinsip tersebut sejalan dengan cita-cita Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk anak Indonesia. Pendidikan itu, kata dia, harus dapat diakses tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun status ekonomi.

Psikolog Klinis Rumah Sakit Universitas Indonesia, Sherly Saragih Turnip mengatakan isu kesehatan mental sebenarnya telah lama terjadi. Namun mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, pandemi turut mempercepat meningkatnya perhatian masyarakat terhadap persoalan kesehatan mental. Khususnya pada kelompok usia muda.

"Kelompok youth mulai dari usia pra-remaja sekitar 10 hingga 11 tahun. Sampai emerging adult usia 25 tahun menjadi perhatian utama," ucapnya.

Ia menjelaskan berbagai penelitian yang dilakukan selama dua dekade menunjukkan masalah kesehatan mental dengan prevalensi tertinggi. Yaitu pada remaja didominasi gangguan suasana hati atau mood disorder.

Ia menambahkan persoalan perilaku juga menjadi tantangan yang cukup banyak ditemukan. Mulai dari perilaku agresif, tindakan berisiko, hingga kecenderungan melanggar hukum.

"Kesepian menjadi salah satu isu yang persentasenya sangat tinggi. Isu ini sangat amat dialami youth atau remaja kita," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....