Pemerintah Proyeksi Kebutuhan Investasi Migas Meningkat
- 22 Mei 2026 06:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi sektor energi akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang
- Termasuk pengembangan carbon capture and storage (CCS), seiring percepatan transisi dengan target menuju ketahanan energi nasional
RRI.CO.ID, Tangerang - Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi sektor energi akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Termasuk pengembangan carbon capture and storage (CCS), seiring percepatan transisi dengan target menuju ketahanan energi nasional.
Sekretaris Jendral Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana mengatakan kebijakan energi nasional yang diumumkan presiden pada September 2025 berfokus pada tiga aspek utama. Yakni ketahanan energi, transisi energi dan dekarbonisasi.
“Pertama adalah bagaimana menjamin ketahanan energi, yang saat ini menjadi isu hangat. Kedua adalah bagaimana menjaga transisi energi, bagaimana Indonesia bergerak menuju energi bersih dan ketiga, yang baru dibandingkan kebijakan sebelumnya, adalah dekarbonisasi,” ujarnya, Kamis 21 Mei 2026.
Menurut dia, Indonesia akan menjalankan strategi energi secara paralel, yakni tetap memanfaatkan energi fosil sambil mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). “Dengan demikian, saya rasa kita semua memahami bahwa kita akan berjalan di dua sisi, tetap menggunakan energi fosil konvensional dan pada saat yang sama mendorong penggunaan energi bersih, khususnya energi baru dan terbarukan,” kata dia.
Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan RUEN atau Rencana Umum Energi Nasional sebagai peta jalan energi nasional. Dokumen itu akan menjadi acuan implementasi berbagai program transisi energi lintas sektor.
Dalam proyeksi pemerintah hingga 2060, porsi energi terbarukan dalam bauran energi primer diperkirakan mencapai sekitar 70 persen, sementara gas sekitar 20 persen dan minyak lima persen. Namun, kebutuhan minyak dan gas diperkirakan masih tinggi selama masa transisi energi.
Berdasarkan data IEA dan IRENA, kebutuhan minyak Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar dua juta barel per hari pada 2030 dan masih sekitar sath juta barel per hari pada 2060. Kebutuhan investasi sektor energi jelas akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang termasuk yang utama dari sektor hulu migas serta penerapan CCS.
“Realisasi investasi tahun lalu mencapai US$15 miliar. Saya rasa itu sangat baik karena hampir sama dengan tahun 2024, kami memproyeksikan peningkatan tahun ini, saya percaya pada 2027 dan 2028 nilainya akan jauh lebih besar,” ucapnya.
Ia mengatakan investasi itu akan datang dari pengembangan proyek-proyek besar seperti ENI, Masela, hingga Andaman yang membutuhkan pendanaan besar. “Kita akan memiliki banyak proyek besar, seperti ENI dan Masela, dan mungkin Andaman nantinya, semua itu membutuhkan investasi yang signifikan,” katanya.
Selain dari proyek hulu migas, pemerintah juga mendorong investasi di sektor CCS sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi nasional. Menurut Dadan, Indonesia memiliki potensi besar sebagai lokasi penyimpanan karbon regional.
Untuk memperkuat pengembangan CCS, Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara seperti Singapura, Korea Selatanndan Jepang. “Kami memiliki kerja sama erat dengan Singapura, termasuk nota kesepahaman yang sangat spesifik mengenai CCS, bulan lalu, kami juga melakukan hal yang sama dengan Korea dan Jepang,” ujar Dadan.
Senior Executive Managing Officer and Global Head of Energy & Natural Resources Finance Group, Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Tatsushi Amano menjelaskan Jepang dan Indonesia memiliki hubungan panjang. Hal itu untuk pembiayaan termasuk di sektor energi.
"Kebijakan Jepang adalah berupaya mencapai netral karbon dengan cara yang realistis dan pragmatis. Karena itu, kami ingin mendukung proyek-proyek berbasis bahan bakar fosil maupun energi terbarukan, tergantung pada kondisi nyata dan kebutuhan masing-masing negara," kata Tatsushi.
Head of Middle East and Far East Region ENI, Ciro Pagano menegaskan iklim usaha yang kondusif memungkinkan pelaku usaha bekerja sama dengan pemerintah, SKK Migas, serta para mitra lainnya. Bahkan, ENI tidak menutup kemungkinan untuk menggelontorkan lebih banyak investasi yang berdampak pada ketahanan energi.
"Kami merasa memiliki kontribusi besar dalam upaya ketahanan energi, karena kami mendapatkan dukungan. Sekaligus dapat mendukung negara dan pemerintah untuk mencapai ketahanan energi," kata Ciro.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....