Kementan Perkuat Pengawasan Pasokan Bawang Merah jelang Iduladha

  • 22 Mei 2026 07:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementan memperkuat langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan bawang merah menjelang Iduladha 1447 Hijriah.
  • Kementan akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan produksi, distribusi, dan harga bawang merah di berbagai daerah.
  • Saat ini Kementan melakukan pemantauan di sejumlah sentra produksi utama seperti Solok, Brebes, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, hingga Probolinggo.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan bawang merah menjelang Iduladha 1447 Hijriah. Salah satunya, melalui pengawasan distribusi dan pasokan guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi serta harga tetap stabil.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Muhammad Taufiq Ratule mengatakan pihaknya memperkuat sinergi bersama champion bawang merah, pemerintah daerah, asosiasi. Serta kementerian dan lembaga terkait dalam menjaga stabilitas pasokan dan distribusi.

“Menghadapi Iduladha, kami memperkuat sinergi bersama champion bawang merah, pemerintah daerah, asosiasi. Serta kementerian dan lembaga terkait untuk menjaga stabilitas pasokan dan distribusi,” kata Ratule dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, Kementan melakukan pemantauan di sejumlah sentra produksi utama seperti Solok, Brebes, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, hingga Probolinggo. Menurutnya, hasil pemantauan menunjukkan produksi bawang merah nasional masih terkendali meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem.

Ratule menyebut produksi bawang merah nasional saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Produksi nasional rata-rata mencapai sekitar 2 juta ton konde basah atau setara 1,3 juta ton rogol kering panen per tahun.

Sedangkan kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 1,26 juta ton per tahun. “Produksi bawang merah nasional masih mencukupi, bahkan Indonesia juga terus melakukan ekspor,” ujarnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan, Muhammad Agung Sunusi menjelaskan musim tanam Maret–Mei 2026 diwarnai cuaca ekstrem yang memicu serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Seperti ulat grayak dan moler, sehingga memengaruhi produktivitas di sejumlah sentra produksi.

Meski demikian, distribusi bawang merah dari berbagai daerah seperti Nganjuk, Enrekang, Pati, Brebes, Temanggung, dan Garut masih berjalan lancar. “Kami terus berkoordinasi dengan dinas pertanian, petani champion, pelaku usaha, dan berbagai pihak terkait agar pasokan tetap aman," ucapnya.

"Produksi diperkirakan meningkat pada Juni 2026. Ini seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra utama,” kata Agung.

Kementan memastikan akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan produksi, distribusi, dan harga bawang merah di berbagai daerah. Guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan nasional selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....