MUI Desak Pemerintah Buktikan Kegunaan BoP saat WNI Disandera Israel

  • 21 Mei 2026 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah untuk menunjukkan pentingnya keanggotaan Indonesia di Board of Peace. Dorongan pembuktian ini mengemuka agar sembilan orang WNI yang disandera Israel dapat segera dibebaskan.
  • Sembilan orang WNI itu tergabung dalam peserta Global Sumud Flotilla dan disandera oleh Israel.
  • MUI berharap, Kemenlu memanfaatkan komunikasi dengan tujuh negara Islam lainnya dan mendesak Amerika memerintahkan Israel untuk bebaskan sandera.

RRI.CO.ID, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah untuk menunjukkan pentingnya keanggotaan Indonesia di Board of Peace. Dorongan pembuktian ini mengemuka agar sembilan orang WNI yang disandera Israel dapat segera dibebaskan.

"Diharapkan Menteri Luar Negeri bisa bersama tujuh negara Islam lainnya yang selama ini selalu koordinasi dalam BoP. Ini kita minta dibuktikan bahwa BoP itu ada gunanya," ujar Ketua MUI Bidang Ukhuwah KH Zaitun Rasmin, di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Sembilan orang WNI itu tergabung dalam peserta Global Sumud Flotilla dan disandera oleh Israel. MUI berharap, Kemenlu memanfaatkan komunikasi dengan tujuh negara Islam lainnya dan mendesak Amerika memerintahkan Israel untuk bebaskan sandera.

"Sepatutnya Zionis ini mendengarkan kata-kata dari Amerika. Sepatutnya, Presiden AS Donald Trump mendengarkan delapan negara Islam lain yang mendukung BoP," ujarnya.

MUI berharap, Presiden Prabowo Subianto dapat menyelesaikan permasalahan secepatnya. Tujuannya, agar keselamatan sembilan WNI yang disandera tidak terancam.

"MUI meminta bertemu dengan Bapak Presiden Prabowo Subianto secepat-cepatnya bila masalah ini tidak terselesaikan. Kita khawatir kalau semakin lama ini berisiko karena mungkin saja ada perlakuan-perlakuan buruk," katanya.

Menurut Zaitun, MUI akan mengirimkan surat kepada Kementerian Luar Negeri, Presiden, PBB, OKI, untuk mempercepat penyelamatan. Begitu pula dengan semua organisasi-organisasi yang dipandang dapat membantu penyelamatan 9 WNI tersebut.

"Pimpinan MUI akan memprakarsai pertemuan dengan lembaga-lembaga yang peduli terhadap kemanusiaan khususnya di Palestina. Baik di tingkat ASEAN maupun di luar ASEAN untuk bersama-sama juga secara aktif menyuarakan perjuangan ini," ucapnya.

Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia, sembilan WNI telah mengirimkan pesan darurat berupa video pernyataan mereka ditangkap. Video darurat tersebut dikirim pada Rabu 20 Mei 2026.

Mereka ditangkap pada waktu yang berbeda. Andi, Rahendro, Andre, Thoudy dan Abeng ditangkap pada Senin, 18 Mei 2026.

Herman dan Ronggo sebelumnya sempat menyatakan diri lolos dari intersepsi Israel pada saat lima WNI lainnya ditangkap.

Dia mengatakan, manuver dari kapten kapal yang ditumpangi berhasil membuat tentara Israel tak mampu mengejar. Namun beberapa jam kemudian ia ikut ditangkap pada Selasa waktu setempat.

Empat jam berselang, Asad dan Hendro turut mengunggah pesan darurat. Pesan tersebut menyatakan mereka ditangkap tentara Israel.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....