MCB Aktivasi Asrama STOVIA, Hadirkan Pengalaman Rebahan ala Anak Sekolah

  • 21 Mei 2026 11:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Museum Kebangkitan Nasional menghadirkan program 'Rebahan di STOVIA' sebagai pengalaman imersif bagi pengunjung merasakan kehidupan siswa STOVIA pada masa kolonial.
  • Indira Estiyanti Nurjadin menyebut program ini menjadi ruang refleksi sejarah dan direncanakan berlangsung rutin untuk mendekatkan museum kepada generasi muda.
  • Fadli Zon menilai program aktivasi publik tersebut membuat museum lebih hidup, inklusif, dan relevan bagi anak muda.

RRI.CO.ID, Jakarta - Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) menghadirkan program 'Rebahan di STOVIA' sebagai pengalaman imersif bersantai bagi pengunjung museum. Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB), Indira Estiyanti Nurjadin merencanakan akan menjadikan program tersebut berjalan rutin setiap hari.

"Kita akan menjadikan kegiatan rutin. Mungkin sebulan sekali ya, saya masih belum tahu detailnya, tapi ini sudah diwacanakan sejak tahun lalu," katanya usai peresmian aktivasi program Rebahan di STOVIA, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia mengatakan program 'Rebahan di STOVIA' menghadirkan pengalaman imersif bagi pengunjung museum. Pengunjung diajak seolah menjadi siswa STOVIA yang tinggal di asrama pada masa kolonial.

Ia menilai pendekatan ini penting untuk memberikan gambaran kehidupan para pendiri bangsa di usia muda. Menurutnya, siswa STOVIA mayoritas berusia setingkat SMA namun telah memiliki pemikiran tentang kebangsaan.

"Di sini kita bayangkan para pendiri bangsa di usia sangat muda sudah memiliki rasa kebangsaan dan kesadaran akan bangsa yang merdeka," ujarnya.

Ia menambahkan, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat memamerkan artefak, tetapi juga sebagai ruang dialog. Melalui program ini, pengunjung diajak untuk memahami sejarah secara lebih personal dan mendalam.

Salah satu pengunjung sedang menikmati program Rebahan di Asrama STOVIA, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026. (Foto: RRI/Annisa Ramadhannia)

Ia menjelaskan bahwa konsep imersif yang digunakan tidak selalu bergantung pada teknologi modern. Tetapi juga dapat dibangun melalui rekonstruksi suasana ruang sejarah.

Dalam hal ini, suasana asrama STOVIA dihadirkan kembali agar pengunjung dapat merasakan pengalaman historis secara lebih nyata. "Imersif itu tidak harus teknologi, di sini kita justru kembali ke suasana masa lalu, bagaimana kehidupan di asrama itu," ucapnya, menjelaskan.

Ia berharap, program ini dapat menjadi sarana pendekatan museum kepada generasi muda. Khususnya melalui pengalaman yang lebih interaktif dan reflektif.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyoroti program aktivasi publik 'Rebahan di STOVIA' . Menurutnya, Program tersebut mengajak generasi muda untuk merasakan pengalaman ruang sejarah dengan pendekatan yang lebih santai.

Ia mengatakan bahwa program ini bertujuan menghadirkan museum sebagai ruang yang hidup, terbuka, dan inklusif. Dan juga relevan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

"Kita ingin museum dan cagar budaya menjadi ruang hidup yang terbuka, dan inklusif. Serta juga relevan bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda," ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa aktivasi publik dirancang memperkuat kedekatan generasi muda dengan sejarah melalui pengalaman ruang bersejarah. Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga ruang interaksi dan refleksi bagi pengunjung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....