Hadirkan Sejarah lewat Lukisan, Kemenbud Resmikan Pameran SciArt 80 di Muskitnas

  • 20 Mei 2026 18:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menbud Fadli meresmikan Pameran SciArt 80: Gelora Api Kebangkitan yang menampilkan 80 tokoh intelektual Indonesia karya Paul Hendro di Museum Kebangkitan Nasional.
  • Pameran menghadirkan ilmuwan dunia seperti Georg Everhard Rumphius dan Alfred Russel Wallace untuk menunjukkan Indonesia sebagai pusat kekayaan alam, budaya, dan ilmu pengetahuan dunia.
  • Karya lukisan dibuat menggunakan teknik camera obscura dan pinhole sebagai ruang edukasi publik yang memadukan seni, sejarah, dan sains secara visual.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) meresmikan pameran Pameran SciArt 80: Gelora Api Kebangkitan di Museum Kebangkitan Nasional. Pameran ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali sejarah perkembangan ilmu pengetahuan Indonesia melalui pendekatan seni visual edukatif.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan pameran tersebut menampilkan lukisan karya seniman, Paul Hendro yang menggambarkan 80 tokoh intelektual Indonesia. Menurutnya, pameran itu merupakan bentuk penghormatan kepada para pemikir, pendidik, dan tokoh bangsa.

"Tahun lalu pameran ini baru menampilkan 35 tokoh dan dibuka di Perpustakaan Nasional. Ini merupakan inisiatif dari AIPI," ujarnya kepada wartawan usai peresmian Pameran SciArt 80: Gelora Api Kebangkitan, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia menjelaskan pameran tersebut menghadirkan sejumlah tokoh intelektual dan ilmuwan dunia yang pernah memiliki hubungan erat dengan Nusantara. Salah satunya ialah Georg Everhard Rumphius yang dikenal sebagai naturalis awal yang meneliti flora di Ambon pada abad ke-17.

Ia menyebut Rumphius menulis dua karya penting mengenai flora Ambon dan kekayaan alam di kawasan Maluku. Selain Rumphius, pameran juga menampilkan Alfred Russel Wallace yang dikenal melalui penelitian flora dan fauna di Maluku.

Menurutnya, kehadiran tokoh-tokoh ilmuwan tersebut menunjukkan Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya. "Indonesia selain peradaban tua, juga merupakan mega diversity dan mega laboratory bagi flora, fauna, kekayaan alam, dan budaya," ucapnya.

Selain menampilkan tokoh ilmuwan dunia, pameran itu juga menghadirkan berbagai tokoh intelektual lain. Terutama yang memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Sementata itu, Pelukis Paul Hendro mengatakan bahwa seluruh karya lukisan dalam pameran ini dibuat dengan pendekatan visual yang unik. Yaitu dengan melalui teknik camera obscura dan metode pinhole.

Ia mengatakan, dengan permainan kontras cahaya dan latar gelap mampu menciptakan kesan historis. Sekaligus reflektif, seolah menghadirkan kembali semangat para ilmuwan dari lintasan waktu.

"Melalui lukisan-lukisan ini, kami ingin menunjukkan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun di medan perjuangan fisik. Tetapi juga di ruang laboratorium, perpustakaan, dan ruang-ruang pemikiran," ujarnya.

Lebih dari itu, pameran ini juga menjadi ruang edukasi publik bagi masyarakat. Melalui bahasa visual yang mudah dipahami, pameran tersebut mempertemukan unsur seni, sejarah, dan sains.

Untuk diketahui, pameran tersebut berlangsung sejak 20 hingga 30 Mei 2026. Adapun jam yang dikunjungi mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Adapun informasi lainnya, bahwa Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) juga menerima tiga perhagaan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan itu meliputi Lukisan Cadas Tertua, Penetapan Cagar Budaya Nasional Terbanyak, serta Pameran Lukisan Tokoh Ilmuwan Terbanyak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....