Inkopontren Ungkap Peran Besar Gus Dur sebagai Pelopor Kemandirian Ekonomi

  • 21 Mei 2026 07:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Koperasi pesantren dibangun agar kebutuhan santri dipenuhi dari lingkungan pesantren sendiri.
  • Penguatan ekonomi pesantren dianggap penting bagi masa depan ekonomi Indonesia.
  • Manarul berharap koperasi pesantren menjadi kekuatan ekonomi umat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Dewan Pengawas Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopotren) Manarul Hidayat mengungkapkan, peran besar Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren. Gagasan tersebut mulai diwujudkan melalui pembentukan Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) pada 1994.

Manarul mengatakan dirinya dipanggil langsung oleh Gus Dur untuk membantu merancang koperasi pesantren nasional. Saat itu, ia masih aktif mendampingi Gus Dur dalam berbagai kegiatan organisasi dan kebangsaan.

“Terus dipanggil Kiai, coba bentuk inkopontren. Berdiri sendiri, tidak dibawah naungan CBM,” kata Manarul dalam Pembukaan Rakernas Inkopontren di Smesco Indonesia, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Menurutnya, koperasi pesantren dibentuk agar seluruh kebutuhan santri dapat dipenuhi secara mandiri dari lingkungan pesantren. Konsep tersebut lahir sebelum menjamurnya usaha ritel modern di berbagai daerah Indonesia.

“Kalau seadanya koperasi, biar pesantren maju, semua kebutuhan santri tidak perlu beli dari luar. Sehingga pesantren itu bisa mandiri,” ujarnya.

Manarul menuturkan Gus Dur menekankan pentingnya pengelolaan koperasi dilakukan secara profesional dan modern. Karena itu, pengurus koperasi disarankan berasal dari generasi muda pesantren yang memahami ekonomi.

“Yang kedua kata Gus Dur, ketuanya jangan pengasuh pesantren, Kiai jangan. Tapi anaknya yang ngerti ekonomi, syukur kalau ada yang sarjana,” katanya.

Ia menjelaskan dana koperasi pesantren harus dikelola secara disiplin agar tidak bercampur kepentingan pribadi pengasuh pondok. Menurutnya, pengelolaan profesional diperlukan supaya sistem pinjaman koperasi tetap sehat dan berkelanjutan.

Manarul juga mengenang keberhasilannya menyelesaikan pembangunan Gedung PBNU yang sempat mangkrak selama bertahun-tahun. Selain itu, Inkopontren pernah menjalin pembicaraan kerja sama ekonomi dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok atau RRC.

Kerja sama tersebut membuka peluang distribusi produk melalui jaringan koperasi pesantren nasional. “Insyaallah 25 persen produk dari RRC akan melalui Inkopontren,” ujarnya.

Namun, rencana kerja sama tersebut akhirnya batal setelah perubahan politik nasional pasca lengsernya Gus Dur dari jabatan Presiden. “Sehingga begitu Gus Dur lengser, saya 50 miliar pun batal, yang tadinya untuk produk juga batal,” katanya.

Manarul menilai pesantren memiliki potensi ekonomi sangat besar untuk mendukung pembangunan nasional. Apalagi jumlah pondok pesantren di Indonesia kini mencapai sekitar 42 ribu lembaga pendidikan.

“Lembaga pendidikan di dunia yang sangat sempurna, dunia selamat akhirat selamat adalah lembaga pendidikan pesantren di Indonesia,” ujarnya. Ia menyebut alumni pesantren memiliki kontribusi besar di berbagai sektor kehidupan nasional dan pemerintahan.

Menurutnya, lulusan pesantren tidak hanya menjadi ulama, tetapi juga birokrat, pengusaha, aparat keamanan, dan politisi. “Tidak semua alumni pesantren jadi Kiai, jadi tentara, jadi polisi, jadi kolomerat, jadi politisi,” ucapnya.

“Kalau sekarang anak-anak pesantren tidak dibina masalah ekonomi, bagaimana masa depan ekonomi Indonesia?” katanya. Ia berharap koperasi pesantren dapat menjadi kekuatan ekonomi umat sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat Indonesia. (Sarah Maulida Ali)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....