Legislator PKB: AI Tak Bisa Dibendung, Kita Harus Adaptif
- 15 Jul 2026 22:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), merupakan keniscayaan yang tidak dapat dibendung.
- Masyarakat diimbau untuk bersikap adaptif dan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi IA.
- AI dinilai tidak akan pernah mampu menggantikan peran tokoh agama maupun kitab suci.
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Oleh Soleh, menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), merupakan keniscayaan yang tidak dapat dibendung. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersikap adaptif dan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi.
Hal ini disamlaikan Oleh Soleh dalam diskusi publik bertema "Ruang Temu AI (Artificial Intelligence) dan Agama, Menyongsong Masa Depan Kehidupan di Era AI Hari Ini" di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Rabu 15 Juli 2026.
"Teknologi itu tidak bisa dilawan. Oleh karenanya, kita harus adaptif, responsif, dan mampu beradaptasi dengan cepat," kata Oleh Soleh.
Oleh Soleh juga mengutip pandangan ulama Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq yang juga menjadi pembicara dalam forum tersebut. Menurutnya, masyarakat tidak perlu bersikap takut secara berlebihan terhadap perkembangan AI.
"Gus Muwafiq tadi sudah menyampaikan, 'Tenang saja, pakai saja, dan tidak berbahaya.' Jadi, mari kita sikapi dengan tenang, manfaatkan dengan baik, karena ini tidak berbahaya selama digunakan dengan bijak," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal DPP PKB Hasanuddin Wahid atau Cak Udin menegaskan bahwa AI tidak akan pernah mampu menggantikan peran tokoh agama maupun kitab suci. Menurutnya, teknologi hanyalah alat yang diciptakan manusia, sedangkan agama bersumber dari Tuhan.
Cak Udin mengaku banyak pihak kini terkejut dengan anggapan bahwa AI dapat mengambil alih peran pemuka agama. Ia menilai sebagian orang mulai menggunakan AI secara berlebihan hingga berpotensi mengabaikan proses pembelajaran keagamaan yang sesungguhnya.
"Banyak orang keheranan dan terkaget-kaget karena AI dianggap telah menggantikan peran-peran pemuka agama, banyak pemuka agama hari ini mengambil jalan pintas. Ada yang menggunakannya untuk menggantikan kitab kuning, menggantikan sanad keilmuan, hingga menggantikan aspek spiritualitas dan etika dalam bimbingan keagamaan," ujar Cak Udin.
Menurutnya, kegelisahan tersebut menjadi salah satu alasan PKB menggelar diskusi publik mengenai relasi AI dan agama. Ia menegaskan bahwa AI dan agama memiliki hakikat yang berbeda sehingga tidak sepatutnya dipertentangkan.
"Agama adalah ajaran dari Sang Pencipta, sementara AI adalah ciptaan manusia. Apakah ini harus dipertentangkan, dipersandingkan, dipertandingkan, atau bagaimana? Di sinilah kita memerlukan pencerahan," katanya.
Cak Udin menambahkan, AI tetap hanya berfungsi sebagai alat bantu yang tidak bisa menggantikan peran para kiai, pendeta, pastur, maupun tokoh agama lainnya dalam membimbing umat. Ia juga menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan kedudukan kitab suci sebagai pedoman hidup umat beragama.
Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, memperluas penyebaran ajaran agama, serta mendukung moderasi beragama di Indonesia.
"AI harus menjadi alat untuk menyebarkan kehidupan keagamaan yang lebih spiritual, agamis, bahkan menunjang moderasi beragama di Indonesia," ucap Cak Udin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....