Generasi Muda Diajak Aktualkan Pancasila
- 20 Mei 2026 15:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gemala Hatta ajak mahasiswa aktualkan nilai Pancasila
- Talkshow digelar di Fakultas Teknik UI Depok
- Mahasiswa diminta pahami sejarah lahirnya Pancasila
- Kampus diminta dorong penguatan karakter mahasiswa
- Pusaka Indonesia soroti gotong royong dan ekonomi Pancasila
RRI.CO.ID, Depok - Putri Proklamator Mohammad Hatta, Gemala Hatta mengajak generasi muda mengaktualkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi pedoman menjaga persatuan bangsa di tengah perubahan zaman dan arus digitalisasi.
Pesan itu disampaikan dalam talkshow “Gema Pancasila Goes to Campus: Dari Nilai ke Aksi Nyata” di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu 20 Mei 2026. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan mahasiswa dan akademisi.
Gemala mengatakan Pancasila lahir dari proses panjang menjaga persatuan Indonesia. Para pendiri bangsa, kata dia, berupaya merangkul seluruh golongan agar Indonesia tetap utuh di tengah perbedaan agama dan latar belakang masyarakat.
“Pancasila itu mengikat dari Sabang sampai Merauke untuk kita betul-betul saling menghargai. Para pendiri bangsa ingin Indonesia tetap bersatu di tengah keberagaman,” ucapnya.
Ia menjelaskan nilai ketuhanan dalam Pancasila harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya mengaku bertuhan tanpa menunjukkan sikap jujur dan adil dalam kehidupan sosial.
“Kalau Anda mengatakan saya bertuhan, tunjukkanlah bahwa dirimu bertuhan, bukan pada KTP. Jangan sampai mengaku bertuhan tetapi masih korupsi dan mengambil hak orang lain,” katanya.
Gemala juga menyinggung pentingnya keteladanan pemimpin dalam kehidupan berbangsa. Ia mengatakan para pendiri bangsa lebih mengedepankan sikap rendah hati dibanding menunjukkan kekuasaan dan kekayaan.
“Bukan pamer kekayaan, tapi pamer pribadi yang baik. Pemimpin harus menjadi contoh baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya,” ucapnya.
Ia turut menjelaskan Bung Hatta kerap menjadi penengah dalam berbagai perbedaan pandangan saat proses perumusan dasar negara. Menurutnya, sikap rendah hati dan kemampuan merangkul perbedaan menjadi kekuatan utama para pendiri bangsa menjaga keutuhan Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Pusaka Indonesia Setio Hajar Dewantoro mengatakan kampus harus menjadi ruang pembentukan karakter dan melahirkan agen perubahan. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengejar kesuksesan pribadi dan karier.
“Kampus juga sebagai tempat mencetak agent of change dan agent of transformation. Mahasiswa harus tumbuh menjadi manusia yang solutif dan bermanfaat bagi bangsa,” ucapnya.
Ia mengatakan mahasiswa perlu didorong membangun kepedulian sosial dan nilai kemanusiaan. Pendidikan, kata dia, tidak boleh hanya melahirkan pribadi yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri.
“Indonesia mestinya kita rawat menjadi negara yang macam-macam. Mahasiswa jangan justru menjadi pemicu pertarungan agama dan perpecahan,” katanya.
Setio turut menyoroti kecenderungan masyarakat yang hanya menampilkan simbol keagamaan secara ritualistik. Menurutnya, nilai agama seharusnya tercermin dari karakter dan perilaku sehari-hari.
“Yang penting itu buah perbuatannya apa. Religiusitas bukan sekadar ritual, tetapi sikap jujur dan tanggung jawab,” ucapnya.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa berprestasi utama UI 2026 Fahyana Daviani menyoroti tantangan generasi muda di era media sosial. Menurutnya, karakter anak muda saat ini banyak dibentuk dari pola pikir dan kebiasaan digital sehari-hari.
Fahyana mengatakan generasi muda harus lebih kritis menghadapi arus opini di media sosial. Ia menilai banyak orang cenderung mengikuti pendapat mayoritas tanpa memahami konteks sebenarnya.
“Kalau teman-teman ingin membangun karakter yang baik, mulainya dari isi pikiran teman-teman sendiri. Apa yang dipikirkan akan membentuk kebiasaan dan karakter seseorang,” katanya.
Ia juga mengingatkan generasi muda menghadapi bonus demografi Indonesia pada 2030. Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk membawa perubahan positif bagi bangsa.
“Kalau ingin mengubah Indonesia, mulainya dari diri sendiri. Generasi muda punya peran besar menentukan masa depan bangsa,” ucapnya.
Fahyana menambahkan setiap orang memiliki cara berbeda dalam memberikan dampak bagi bangsa. Menurutnya, kontribusi dapat dilakukan melalui media sosial, kegiatan sosial, hingga pengabdian masyarakat.
“Yang paling utama adalah tahu mau jadi apa dan tahu tujuannya apa. Setiap orang punya peran berbeda dalam membangun Indonesia,” katanya.
Koordinator MPKT UI Zhilal El Furqaan mengatakan penguatan nilai Pancasila di kampus tidak lagi cukup dilakukan secara teoritis. Mahasiswa perlu didorong menerjemahkan nilai kebangsaan menjadi aksi nyata dan kolaborasi sosial.
“Fokus utamanya bukan di materi, tetapi penguatan karakter dan soft skill. Mahasiswa harus belajar menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Talkshow tersebut merupakan kolaborasi Pusaka Indonesia dan Fakultas Teknik UI, dalam kegiatan itu juga dilakukan penyerahan pusaka simbolik. Kepada Wakil Dekan FT UI Akhmad Herman Yuwono sebagai simbol penguatan nilai kebangsaan di lingkungan kampus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....