Presiden Prabowo Wajibkan Ekspor Komoditas Strategis lewat BUMN

  • 20 Mei 2026 12:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tiga komoditas meliputi sawit, batu bara, dan fero alloy disebut menjadi penyumbang devisa besar terhadap ekspor Indonesia.
  • Presiden Prabowo tegaskan penjualan komoditas wajib melewati BUMN yang ditunjuk pemerintah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyoroti besarnya devisa ekspor Indonesia dari sejumlah komoditas strategis selama 2025. Hal itu disampaikan Presiden dalam rapat paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Tiga komoditas disebut menjadi penopang utama penerima devisa nasional di antaranya sawit, batu bara, dan paduan logam (ferro alloy). Dari sawit, kata Prabowo, devisanya mencapai USD23 miliar (sekitar Rp391 triliun) sepanjang 2025.

Dari sektor batu bara, devisa ekspor bisa mencapai USD30 miliar (sekitar Rp510 triliun). Sementara itu, ferro alloy mencapai 16 miliar dolar AS arau sekitar Rp272 triliun.

“Tiga komunitas strategis ini menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS,” kata Prabowo dalam pidatonya. Total nilainya setara sekitar Rp1.100 triliun per tahun.

Untuk memperkuat pengawasan dan monitoring aliran ekspor komoditas tersebut, Prabowo mewajibkan prosesenya melewati satu pintu. Yakni lewat BUMN yang ditunjuk pemerintah.

Tujuan utamanya untuk memperkuat pengawasan dan monitoring. Selain itu memberantas praktik kurang bayar, underinvoicing, praktik pemindahan harga (transfer pricing), hingga pelarian Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Hal tersebut sebagaimana yang tertuang dalam Penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam. Penerbitan ini bermaksud untuk mengatur ekspor komoditas sumber daya alam Indonesia sehingga berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Dalam artian hasil dari setiap penjualan ekspor akan diteruskan oleh BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah kepada pelaku usaha pengelola kegiatan tersebut. Ini bisa dikatakan sebagai marketing facility,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....