Kesiapsiagaan Bencana Indonesia Dinilai Masuki Fase Kebangkitan Kedua

  • 13 Mei 2026 15:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Dwikorita Karnawati menilai kesiapsiagaan bencana Indonesia mulai meningkat dan memasuki fase 'kebangkitan kedua'.
  • Dwikorita menyebut tantangan bencana saat ini semakin kompleks karena melibatkan gempa bumi, tsunami, longsor, hingga likuefaksi yang terjadi bersamaan.
  • BPBD Kota Makassar mendorong edukasi mitigasi bencana sejak usia dini agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Dwikorita Karnawati menilai kesiapsiagaan bencana di Indonesia mulai kembali meningkat. Menurutnya, kondisi tersebut menandai fase 'kebangkitan kedua' setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, perkembangan kesiapsiagaan bencana dapat dibandingkan dengan kondisi saat terjadinya Tsunami Aceh 2004. Saat itu, masyarakat, pemerintah, hingga lembaga penanganan bencana dinilai belum memiliki kesiapan yang memadai.

"Kalau mengenai perkembangan, pembandingnya adalah saat tsunami Aceh tahun 2004. Saat itu sama sekali tidak ada kesiapan, baik masyarakat, pemerintah, maupun lembaga yang menangani," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 13 Mei 2026.

Ia mengatakan, pascabencana Aceh terjadi gerakan besar dalam penguatan sistem penanggulangan bencana yang ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Penanggulangan Bencana. Namun, ia menilai, kesiapsiagaan sempat kembali menurun ketika terjadi sejumlah bencana pada 2018, seperti gempa Lombok, dan tsunami Palu.

"Sekarang fasenya menurut saya adalah fase kebangkitan kedua. Namun, itu pun masih harus terus dibangkitkan, terutama dalam hal koordinasi dan kecepatan koordinasi," ujarnya.

Ia menjelaskan, tantangan penanggulangan bencana saat ini semakin kompleks karena Indonesia tidak lagi hanya menghadapi satu jenis bencana. Ia mencontohkan, sejumlah peristiwa bencana terbaru melibatkan kombinasi gempa bumi, tsunami, longsor, hingga likuefaksi yang terjadi secara bersamaan.

Selain faktor alam, kerusakan ekologi dan perilaku manusia turut memperbesar risiko bencana. Karena itu, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan dinilai harus diperkuat melalui edukasi, peningkatan literasi kebencanaan, hingga kesadaran lingkungan masyarakat.

"Sudah tidak hanya murni bencana alam. Ada pengaruh ekologi dan perilaku manusia yang sangat memengaruhi kerusakan lingkungan," ucapnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Fadli Tahar menegaskan pentingnya mitigasi bencana yang dimulai sejak usia dini. Menurutnya, kesiapsiagaan sebagai fondasi utama dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

"Mitigasi harus dimulai sejak dini. Kami memberikan edukasi mulai dari tingkat PAUD, SD hingga SMP agar anak-anak memahami cara menghadapi bencana," ujarnya.

Ia menjelaskan, edukasi tersebut bertujuan membentuk kesiapan mental masyarakat sehingga tidak panik saat bencana terjadi. Anak-anak dikenalkan pada langkah-langkah dasar penanganan berbagai jenis bencana yang memiliki karakteristik berbeda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....