Hadapi Cuaca Ekstrem, Pakar Imbau Masyarakat Aktif Pantau Informasi Bencana
- 06 Mei 2026 22:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Cuaca tidak menentu terjadi meski Indonesia memasuki musim kemarau, ditandai hujan mendadak dan suhu ekstrem.
- BMKG mengimbau kewaspadaan khususnya di wilayah rawan seperti bantaran sungai dan lereng.
- Informasi kebencanaan sudah tersedia luas, tetapi pemanfaatannya oleh masyarakat masih menjadi tantangan utama.
RRI.CO.ID, Jakarta – Cuaca tidak menentu terjadi di berbagai wilayah Indonesia meski sudah memasuki musim kemarau tahun ini. Fenomena ini ditandai hujan mendadak, angin kencang, serta suhu panas ekstrem dalam satu waktu berbeda.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di sejumlah wilayah. BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terutama di bantaran sungai dan kawasan rawan longsor.
Fenomena ini juga dikaitkan dengan kemarau basah serta dinamika atmosfer seperti El Nino dan faktor lokal lainnya. Perubahan cuaca yang cepat membuat pola musim sulit diprediksi secara sederhana oleh masyarakat umum.
Guru Besar UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Eko Teguh Paripurno, menilai ancaman bencana selalu bersifat dinamis. Ia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi risiko melalui pemahaman informasi yang tersedia.
"Ancaman memang selalu bekerja dan kita sebagai warga punya kesempatan untuk terus berupaya dalam mengurangi risiko bencana. Tidak ada ancaman tanpa peringatan karena diskusi kali ini merupakan bagian dari bentuk peringatan yang sifatnya umum," kata Guru Besar UPNVY, Prof. Eko Teguh, dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu, 6 Mei 2026
Menurutnya, informasi kebencanaan sebenarnya sudah tersedia melalui berbagai kanal resmi yang mudah diakses masyarakat. Tantangannya terletak pada bagaimana masyarakat memanfaatkan informasi tersebut sebagai peringatan dini yang efektif.
Ia mencontohkan pentingnya penggunaan aplikasi berbasis lokasi untuk memperoleh informasi cuaca yang lebih akurat dan spesifik. Pengaturan titik lokasi dinilai krusial agar data yang diterima sesuai kondisi nyata di lapangan.
"Menurut saya, sudah cukup tetapi warga di kawasan rawan bencana wajib mengunduh aplikasi untuk memantau situasi terkini. Jangan sampai kendala sinyal atau pulsa data menghambat masyarakat dalam menerima informasi peringatan dini yang sangat penting itu," kata dia.
Disisi lain, BPBD DKI Jakarta menyebut potensi bencana saat ini masih didominasi oleh kebakaran akibat kondisi panas. Meski demikian, perubahan cuaca tetap berpotensi memicu banjir ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Kepala Satuan Pelaksana Pusdatin BPBD DKI Jakarta, Ermandy Astama Putra, menjelaskan pihaknya terus memantau kondisi cuaca secara berkala. Informasi peringatan dini disebarkan melalui media sosial dan situs resmi kepada masyarakat luas.
"Untuk langkah khusus kami selalu menyampaikan kepada masyarakat lewat sosial media kami, website kami, terkait dengan peringatan dini cuaca. Kemudian sosialisasi dampak cuaca yang tidak menentu seperti ini," ujarnya
BPBD juga memantau kondisi hulu sungai seperti di Bogor untuk mengantisipasi potensi banjir kiriman ke Jakarta. Informasi status pintu air menjadi acuan penting dalam menyampaikan peringatan kepada warga.
Masyarakat diimbau menyiapkan tas siaga bencana berisi kebutuhan dasar untuk bertahan selama beberapa hari darurat. Selain itu, warga diminta menjaga kesehatan, menerapkan pola hidup bersih, dan selalu waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. (Sarah Maulida Ali)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....