Kebutuhan Hewan Kurban Iduladha 2026 Naik 3,82 Persen
- 13 Mei 2026 13:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Pertanian memproyeksikan kebutuhan hewan kurban Iduladha 2026 meningkat 3,82 persen atau sekitar 86.727 ekor dibanding tahun sebelumnya.
- Pemerintah memastikan distribusi hewan kurban dari daerah surplus ke wilayah minus terus dilakukan agar pasokan merata dan harga tetap terkendali.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebutuhan hewan kurban pada Iduladha 2026 diproyeksikan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kementerian Pertanian mencatat kenaikan kebutuhan hewan kurban mencapai 3,82 persen atau sekitar 86.727 ekor secara nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda mengatakan proyeksi kebutuhan hewan kurban tahun ini mencapai sekitar 2.355.470 ekor. “Kebutuhan hewan kurban tahun 2026 meningkat sekitar 3,82 persen atau sebanyak 86.727 ekor dibandingkan dengan tahun 2025,” ujar Agung dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Ia mengatakan pemerintah memastikan peningkatan kebutuhan tersebut masih dapat dipenuhi dari stok ternak nasional yang tersedia. Pemerintah juga terus mengatur distribusi hewan kurban dari daerah surplus menuju daerah yang masih mengalami kekurangan pasokan.
Langkah tersebut dilakukan agar pasokan hewan kurban tetap merata di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, pemerintah ingin menjaga stabilitas harga hewan kurban menjelang Iduladha.
“Pemerintah terus melakukan pengaturan distribusi hewan kurban dari daerah produksi dan daerah surplus. Ditujukan ke daerah-daerah yang masih minus agar pasokan merata dan harga juga terkendali,” kata Agung.
Selain menjaga pasokan, pemerintah juga memperkuat pengawasan kesehatan hewan kurban di berbagai daerah. Pengawasan dilakukan karena lalu lintas ternak biasanya meningkat menjelang Hari Raya Iduladha.
"Karena pada umumnya hewan kurban ini merupakan ternak atau hewan tabungan dari para peternak kita. Sehingga kesehatannya kita jaga melalui program vaksinasi, kemudian pengawasan, dan menjelang Iduladha memang lalu lintasnya cukup tinggi," ucapnya.
Pemerintah melibatkan dokter hewan dan petugas kesehatan hewan untuk memantau potensi penyebaran penyakit ternak. Pengawasan difokuskan pada penyakit mulut dan kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks, dan penyakit hewan menular strategis lainnya.
"Kemudian penyakit Antraks, ini salah satu penyakit zoonosis. Kemudian tentu penyakit hewan menular strategis lainnya menggunakan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional Terintegrasi," ujar Agung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....