Pangkas Beban Fiskal, Konversi LPG ke CNG bisa Hemat Devisa Negara

  • 07 Mei 2026 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Telisa Aulia Falianty menilai penggunaan CNG dapat mengurangi impor energi dan menghemat devisa negara hingga Rp150 triliun.
  • CNG yang diklaim 30–40 persen lebih murah dibanding LPG 3 kilogram dinilai mampu menekan beban biaya masyarakat dan membantu mengendalikan inflasi.
  • Kementerian ESDM menargetkan distribusi CNG mulai digunakan masyarakat pada 2026, dengan tahap awal difokuskan di kota-kota besar di Pulau Jawa.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Demikian disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty.

Ia menilai, CNG dapat mengurangi impor energi sekaligus menghemat devisa negara. Ia menjelaskan, berdasarkan sejumlah simulasi dan perhitungan, penggunaan CNG diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp150 triliun.

"Dengan adanya CNG ini, kita bisa menghemat devisa negara hingga Rp150 triliun. Apalagi saat ini kita membutuhkan dolar yang cukup besar, sementara nilai tukar rupiah juga sedang melemah," ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurutnya, penghematan tersebut berasal dari berkurangnya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi berbasis dolar Amerika Serikat. Ia juga menyebut penggunaan CNG yang diklaim 30–40 persen lebih murah dibandingkan LPG 3 kilogram.

Penurunan biaya energi tersebut juga berpotensi menekan laju inflasi. Sebab, sektor makanan dan minuman memiliki kontribusi cukup besar terhadap pembentukan inflasi nasional.

"Kalau biaya energi lebih murah, tentu dapat menurunkan beban biaya masyarakat dan dunia usaha. Dampaknya bisa membantu menekan inflasi," katanya.

Ia menambahkan, pemanfaatan CNG juga penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, Indonesia dinilai dapat memiliki sistem energi yang lebih mandiri dan stabil.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan distribusi Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG. Rencananya, CNG mulai dikonsumsi masyarakat Indonesia pada tahun ini.

Pada tahap awal, distribusi akan difokuskan ke kota-kota besar yang memiliki kebutuhan energi tinggi. Wilayah Pulau Jawa menjadi prioritas utama dalam pengembangan pasar tersebut.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah mematangkan pola distribusi. Serta kesiapan infrastruktur di lapangan.

"Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat," ucapnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Rabu, 6 Mei 2026. Rencana implementasi penggunaan gas bumi yang dimampatkan ini dipastikan tidak langsung menyasar seluruh wilayah Indonesia secara serentak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....