AS Nyatakan Operasi Militer di Iran Berakhir, DPR: Indonesia Tidak Boleh Lengah

  • 07 Mei 2026 11:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari menegaskan, Pemerintah Indonesia tidak boleh pasif merespons perkembangan geopolitik global.
  • Politikus PKB ini menilai, pernyataan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya seluruh risiko konflik di Timur Tengah.
  • Terutama pada jalur vital seperti Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari menegaskan, Pemerintah Indonesia tidak boleh pasif merespons perkembangan geopolitik global. Khususnya, terkait pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, yang menyatakan bahwa fase operasi militer utama terhadap Iran telah berakhir.

Politikus PKB ini menilai, pernyataan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya seluruh risiko konflik di Timur Tengah. Mengingat, situasi kawasan Timur Tengah masih menyimpan potensi ketegangan yang dapat berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan energi global.

"Terutama pada jalur vital seperti Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Indonesia tidak boleh lengah, meskipun operasi militer dinyatakan selesai, risiko gangguan rantai pasok energi global tetap tinggi," kata Ratna dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Pemerintah Indonesia, Ratna mendorong, harus membaca situasi ini secara strategis dan mengambil langkah antisipatif yang konkret. Ketergantungan Indonesia impor minyak mentah, menjadikan dinamika geopolitik global sebagai faktor yang menentukan terhadap stabilitas ekonomi domestik.

"Fluktuasi harga minyak akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah. Berpotensi memberi tekanan terhadap APBN, inflasi, hingga daya beli masyarakat," ucap Ratna.

Dalam konteks tersebut, ia juga mendorong, pemerintah segera memperkuat ketahanan energi nasional melalui sejumlah langkah strategis. Salah satunya, dengan mempercepat pembangunan cadangan energi strategis (strategic petroleum reserve/SPR) guna mengantisipasi gangguan pasokan global.

"Melakukan diversifikasi sumber impor energi agar tidak bergantung pada satu kawasan tertentu. Mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan guna mengurangi eksposur terhadap volatilitas harga minyak dunia," ujar Ratna.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan, Operasi 'Epic Fury' telah berakhir. Ia menambahkan, AS kini memasuki fase baru, yakni Project Freedom yang berfokus pada pengawalan kapal di Selat Hormuz.

Rubio menjelaskan tahap operasi militer sebelumnya telah selesai dan tidak lagi menjadi bagian dari agenda utama AS di kawasan tersebut. Operasi Epic Fury merupakan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump memberi tahu Kongres bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berlaku sejak April. Ia juga menyebut bahwa perang antara kedua pihak dianggap telah berakhir, dilansir dari The Hill, Rabu, 6 Mei 2026.

“Operasinya sudah selesai. Epic Fury, seperti yang telah diberitahukan presiden kepada Kongres, tahap itu sudah berakhir. Sekarang kita beralih ke Project Freedom,” kata Rubio kepada wartawan di ruang konferensi Gedung Putih.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....