Sosiolog Menilai Migrasi Penduduk Wajar di Era Global dan ‘Borderless Society’

  • 06 Mei 2026 16:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Migrasi dinilai sebagai fenomena wajar seiring berkembangnya masyarakat global tanpa batas atau borderless society
  • Kecenderungan migrasi keluar negeri lebih tinggi dibandingkan arus masuk ke Indonesia saat ini
  • Faktor ekonomi dan konsep ekuilibrium serta identitas homeland memengaruhi keputusan migrasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Sosiolog Universitas Indonesia Ida Ruwaidah menilai meningkatnya migrasi penduduk Indonesia merupakan fenomena yang wajar dalam konteks global saat ini. Ia menyebut perpindahan manusia antar wilayah menjadi hal umum seiring berkembangnya konsep masyarakat tanpa batas atau ‘borderless society’.

“Sebetulnya fenomena migrasi kan sesuatu hal yang biasa gitu ya, wajar-wajar saja, apalagi di era global. Ketika kita juga menyebut bahwa masyarakat dunia itu menjadi masyarakat yang dalam tanda kutip, tanpa batas gitu, borderless society,” kata Ida kepada RRI PRO3 di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurutnya, migrasi bukan sesuatu yang baru, bahkan telah lama terjadi dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah kehidupan manusia. Namun, ia menyoroti bahwa data menunjukkan kecenderungan penduduk keluar negeri lebih tinggi dibandingkan dengan arus masuk ke Indonesia saat ini.

Ia menegaskan bahwa fenomena ini perlu dipahami melalui faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk bermigrasi. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah ekuilibrium, yakni perpindahan dari wilayah dengan kekurangan menuju wilayah yang dianggap memiliki lebih banyak keuntungan.

“Jadi ekuilibrium itu biasanya dari satu wilayah yang minus cari atau pindah ke wilayah yang dianggap lebih banyak plus-plusnya gitu ya, daripada banyak minusnya. Itu lebih karena daya tarik ekonomi sebetulnya atau daya dorong ekonomi itu salah satunya ya,” ujarnya.

Faktor ekonomi disebut sebagai salah satu alasan utama, baik sebagai daya dorong maupun daya tarik dalam keputusan migrasi tersebut. Selain itu, konteks tujuan negara juga penting karena berkaitan dengan identitas ‘homeland’ yang dirasakan individu terhadap suatu wilayah tertentu.

Ida menjelaskan bahwa sebagian orang bisa merasa negara lain sebagai homeland karena faktor keturunan atau keterikatan emosional tertentu. Hal tersebut kemudian mempengaruhi ketertarikan mereka untuk berpindah dan menetap di negara yang dianggap memiliki kedekatan identitas tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....