Kardinal Suharyo Soroti Pentingnya Penggunaan Bahasa Indonesia di Vatikan
- 06 Mei 2026 06:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kardinal Ignatius Suharyo menilai penggunaan bahasa Indonesia di Vatikan sangat strategis
- Penggunaan bahasa Indonesia dinilai memperkuat diplomasi internasional dan penyebaran informasi Gereja Indonesia
- Kardinal Suharyo menyebut Gereja Katolik Indonesia memiliki perkembangan yang sangat maju
RRI.CO.ID, Jakarta – Kardinal Ignatius Suharyo menilai penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan sangat penting dan strategis. Langkah tersebut dinilai memperkuat diplomasi internasional sekaligus memperluas penyebaran informasi Gereja Katolik Indonesia ke dunia internasional.
Hal itu disampaikan Kardinal Suharyo saat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) berkunjung ke Wisma Keuskupan Agung Jakarta. Pertemuan tersebut juga membahas perkembangan kerja sama penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News.
“Kehidupan Gereja Katolik Indonesia sangat maju dan dinamikanya sangat hidup, tetapi informasinya belum tersebar luas. Saya berharap cerita gereja Indonesia yang menginspirasi bisa dimengerti forum internasional,” ujarnya saat menerima kunjungan PWKI di Wisma Keuskupan Agung Jakarta, Senin, 4 Mei 2026
Dalam kesempatan tersebut, PWKI juga menyerahkan buku hubungan diplomatik Indonesia dan Takhta Suci kepada Kardinal Suharyo. Buku tersebut merupakan oleh-oleh dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci, M Trias Kuncahyono.
Menurut Kardinal Suharyo, penandatanganan nota kesepahaman penggunaan bahasa Indonesia membuka peluang komunikasi internasional lebih luas. Selama ini, banyak cerita positif dari Indonesia dinilai belum tersampaikan secara optimal ke masyarakat dunia.
“Semoga setelah nota kesepahaman ini banyak cerita positif tentang Indonesia bisa disebarkan ke seluruh dunia. Ini menjadi pintu masuk penting bagi komunikasi internasional,” katanya.
Di sisi lain, penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News juga dinilai memiliki tantangan besar dalam pelaksanaannya nanti. Salah satu tantangan utama berkaitan dengan keberlanjutan pembiayaan dan pengelolaan layanan informasi internasional tersebut.
“Dulu pernah ada edisi bahasa Indonesia Radio Veritas di Filipina, tetapi akhirnya dihentikan karena biaya besar. Tantangannya memang tidak mudah dan perlu dipikirkan bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kardinal Suharyo menilai Gereja Katolik Indonesia memiliki perkembangan yang sangat maju dibandingkan sejumlah negara Eropa. Menurutnya, banyak konsep yang kini dibahas dunia internasional justru telah lama diterapkan di Indonesia.
“Yang dibicarakan sekarang sebenarnya sudah dilakukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Kita sudah lama menerapkan semangat berjalan bersama dalam kehidupan gereja,” katanya.
Sebagai contoh, konsep dewan paroki dan keterlibatan umat dalam pengambilan keputusan telah berlangsung lama di Indonesia. Praktik tersebut dinilai menjadi bukti kemajuan pemikiran dan tata kelola Gereja Katolik Indonesia.
“Sinode yang berlangsung sekarang baru membicarakan berbagai hal yang sebenarnya sudah kita jalankan sebelumnya. Sayangnya informasi mengenai perkembangan tersebut belum banyak diketahui dunia,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia Asni Ovier menegaskan pihaknya siap mendukung pelaksanaan nota kesepahaman tersebut. Menurutnya, penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News membawa harapan baik bagi Gereja Katolik Indonesia.
“Kami siap membantu pelaksanaan penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News sesuai tanggung jawab kami sebagai inisiator. Harapannya kerja sama ini berjalan lancar dan membawa manfaat luas,” katanya.
Tidak hanya itu, isu yang akan diangkat nantinya juga berkaitan dengan perdamaian, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama. Selain itu, keberagaman Indonesia diharapkan semakin dikenal masyarakat internasional melalui Vatican News.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....