Ciptakan Daycare Ramah Anak, Ahli Sebut Perlu SDM Kompeten

  • 06 Mei 2026 06:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengasuh daycare seringkali bukan berasal dari orang berkompeten.
  • Hal ini bisa menghambat pola asuh yang optimal dan berdampak buruk bagi anak.
  • Pengelola daycare wajib menerapkan sistem seleksi staf yang jauh lebih ketat dan juga menyeluruh

RRI.CO.ID, Jakarta – Konselor Parenting, Erly Yunita mengatakan, pengasuh menjadi salah satu personil penting dalam penyelenggaraan daycare. Menurutnya, sebagai yang berinteraksi langsung dengan anak, pengasuh sering kali menjadi figur lekat utama selama berada di tempat penitipan.

Bahkan, lanjut dia, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu fokus utama dalam regulasi daycare ramah anak. Hal ini tertuang dalam Permen PPPA Nomor 4 Tahun 2024, untuk mencapai tujuan lingkungan daycare ramah anak dibutuhkan SDM yang kompeten.

“Anak akan cenderung akan meniru perilaku yang dilakukan oleh pengasuh mereka. Bahkan figur pengasuh itu bisa menjadi teladan perilaku bagi anak," kata Erly dalam Webinar "Daycare Ramah Anak" bersama Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Namun, kata dia, yang menjadi persoalan adalah tidak semua pengasuh memahami tugas serta tahapan perkembangan anak dengan baik dan benar. Hal ini sering memicu penerapan pola asuh yang terlalu permisif atau bahkan keras.

"Kadang terlalu semuanya diiyakan dan diperbolehkan atau terlalu keras. Misalnya sebentar-sebentar memukul, sebentar-sebentar membentak," ujarnya.

Menurutnya, pengasuh harus mampu merespons kondisi emosional anak secara tepat dan penuh kasih sayang. Interaksi berkualitas dengan orang dewasa sangat menentukan perkembangan emosi serta sosial sang anak.

"Sehingga, daycare tidak boleh hanya fokus pada urusan makan, minum, dan ganti popok saja. Kita juga harus memasukkan nilai-nilai pengasuhan yang positif," ucapnya.



Bahkan, kata dia, cara bicara dan perlakuan pengasuh akan diinternalisasi oleh anak dalam keseharian mereka. Oleh karena itu, perilaku pengasuhan yang positif sangat krusial untuk mendukung perkembangan struktur otak anak secara optimal.

Perlakuan kasar seperti membentak dapat mengganggu sambungan saraf pada otak anak tersebut. Sebaliknya, pengasuh harus memberikan respon empatik agar anak merasa aman dan nyaman.

Psikolog Wenny Aidina mengatakan, kendala lainnya ada pada masalah sistemik dari layanan daycare itu sendiri. Ia menyebut profesi pengasuh acapkali dianggap sebagai pilihan terakhir bagi para pencari kerja.

Akibatnya, banyak pekerja masuk ke bidang ini tanpa didasari oleh panggilan jiwa. "Jiwa menyayangi anak itu tidak muncul jika daycare hanya menjadi pelabuhan terakhir," katanya, dikutip dari Antara, Selasa, 5 Mei 2026.

Wenny mengatakan, tidak semua individu memiliki kapasitas untuk menjadi pengasuh profesional. Ia mengibaratkan, selain orang tua, hanya orang dengan kualifikasi tertentu yang boleh mendampingi tumbuh kembang sang anak.

Ia mendesak pemerintah agar segera menerapkan standar kompetensi pengasuh yang lebih jelas. Standar baku tersebut sangat diperlukan sebagaimana telah diterapkan oleh banyak negara maju.

Faktor tekanan ekonomi sering kali disebut sebagai pemicu utama terjadinya tindak kekerasan. Meski demikian, kesulitan finansial tetap tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran atas penganiayaan.



Pengelola wajib menerapkan sistem seleksi staf yang jauh lebih ketat dan juga menyeluruh. Hal ini penting untuk memastikan kualitas sumber daya manusia di tempat penitipan anak.

Informasi latar belakang tersebut sangat krusial dalam meminimalisir risiko kekerasan pada anak. "Pengelola harus mencari tahu rekam jejak serta tabiat pengasuh, jika perlu hingga ke lingkungan keluarga," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....