Wapres Gibran Bertemu Wakil PM Laos, Perkuat Kerja Sama Ekonomi hingga Keamanan

  • 05 Mei 2026 15:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Laos Thongsavan Phomvihane. Pertemuan bilateral tersebut digelar di Istana Wapres, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Dalam kesempatan itu, pemerintah Indonesia mendorong penguatan kerja sama bilateral dengan Laos di berbagai sektor strategis. Pertemuan bilateral ini membahas tiga fokus utama, yakni kerja sama ekonomi, keamanan, dan politik

"Yang terkait dengan tema politik ini adalah karena tahun depan InsyaAllah hubungan kita dengan Laos ini akan memasuki tahun ke-70. Jadi kita akan merayakan hubungan bilateral kita dengan Laos insyaAllah tahun depan yang ke-70," kata Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta usai mendampingi Wapres bertemu Wakil PM Laos.

"Karena itu kita berpikir harus ada sesuatu yang lebih strategis yang bisa kita rayakan pada usia hubungan dipolitik kita yang sudah memasuki tahun ke-70. Ini yang kita jabarkan dalam rangkaian kerja sama ekonomi," ujarnya.

Di sektor ekonomi, lanjutnya, nilai perdagangan kedua negara saat ini tercatat sekitar USD83,8 juta. Ia menyebut, nilai perdagangan tersebut relatif sangat kecil dibanding dengan negara-negara ASEAN yang lainnya.

Menurutnya, Indonesia juga masih mengalami defisit perdagangan sekitar USD57 juta dolar. Terutama akibat impor potas dari Laos untuk kebutuhan pupuk dalam negeri

"Sehingga pemerintah berniat untuk melakukan melalui PT Pupuk investasi di Laos nanti kerja sama dalam bidang industri ini," ujarnya. Selain ekonomi, kedua pemimpim juga membahas kerja sama keamanan.

Di bidang keamanan, Indonesia dan Laos sepakat meningkatkan kolaborasi dalam menghadapi kejahatan lintas negara. Khususnya terkait kasus penipuan daring (scam) yang melibatkan warga negara Indonesia di kawasan tersebut.

"Karena selain Kamboja ada Laos yang juga banyak WNI yang terlibat dalam kasus ini. Sehingga pengembangan kerja sama ini dalam kerja sama intelijen dan keamanan ini sangat penting untuk kita tingkatkan," ucapnya.

Lebih lanjut, Anis menekankan pentingnya hubungan Indonesia dengan Laos dalam konteks kawasan ASEAN. Ia menyebut, ASEAN sebagai mitra dagang terbesar kedua Indonesia setelah Tiongkok, dengan nilai sekitar USD106 miliar per tahun.

"Itu sebabnya kenapa Laos kita bilang ini masih kecil dan perlu peningkatan. Karena potensi yang ada ini masih jauh dari pada apa yang sudah terealisasi," katanya.

"Di tengah goncangan geopolitik yang ada sekarang ini saya kira faktor geografi ini memainkan peranan yang sangat penting. Karena itu penguatan kerja sama ASEAN dan di sini Laos menemukan konteksnya yang sangat penting sekali," ucapnya.

Hal yang sama disampaikan Wakil Kepala Badan Pengatur BUMN, Aminuddin Ma'ruf. Menurutnya, pemerintah membuka peluang investasi strategis di Laos, khususnya di sektor pupuk melalui PT Pupuk Indonesia.

"Karena kita, Pupuk Indonesia, itu mengimport bahan baku pupuk yaitu potas kurang lebih nilainya 60 juta USD per tahun dari Laos. Tadi Bapak Wakil Presiden menyampaikan ke Yang Mulia Wakil Perdana Menteri untuk menjajaki kemungkinan Pupuk Indonesia berinvestasi di Laos untuk memproduksi pupuk dan hilirisasinya," katanya dalam kesempatan yang sama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....