Transformasi Pendidikan Indonesia Berlanjut, Pemerataan Jadi Tantangan

  • 02 Mei 2026 15:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pendidikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi berkelanjutan dengan digitalisasi sistem, namun tantangan utama adalah memastikan kualitas sumber daya manusia sejalan dengan kemajuan teknologi
  • Pemerataan pendidikan menjadi fokus utama Hardiknas 2026, dengan target kualitas pendidikan menjangkau seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali, termasuk daerah 3T
  • Aceh dinilai memiliki potensi besar melalui otonomi pendidikan berbasis kearifan lokal

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Banda Aceh Intan Nirmala Hasibuan menyebut pendidikan Indonesia sedang berada dalam fase transformasi berkelanjutan saat ini. Ia menegaskan tantangan utama terletak pada memastikan pemanfaatan teknologi berjalan seiring peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidikan.

“Pendidikan Indonesia ini sedang dalam fase transformasi berkelanjutan, disini kita sudah banyak mendigitalisasi banyak sistem. Namun sebenarnya tantangannya sekarang adalah memastikan apakah teknologi tersebut berbanding lurus dengan kualitas manusianya,” katanya kepada RRI PRO3, Sabtu, 2 Mei 2026.

Menurut Intan, tema Hardiknas 2026 menandai pergeseran dari pendidikan sekadar ada menuju pendidikan bermutu untuk semua kalangan masyarakat Indonesia. Ia menekankan pemerataan pendidikan menjadi poin kunci utama sesuai amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang berlaku.

Ia mengingatkan kualitas pendidikan tidak boleh hanya terpusat pada sekolah tertentu, tetapi harus menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara merata. Intan menegaskan pemerataan pendidikan harus terwujud dari Sabang hingga wilayah paling timur Indonesia tanpa terkecuali.

Dalam konteks Aceh, Intan menilai daerah tersebut memiliki potensi melalui kekhususan otonomi pendidikan yang menjadi modal penting pengembangan pendidikan. Ia menyebut pendidikan di Aceh menggabungkan kecakapan global dengan nilai kearifan lokal yang religius dan berbudaya.

“Khusus untuk Aceh, kita memiliki modalitas yang sangat kuat, yaitu kekhususan otonomi pendidikan. Pendidikan di Aceh sendiri saat ini berupaya mengawinkan antara kecakapan global dengan kearifan lokal, di mana kita memiliki karakter religius dan budaya,” ucapnya.

Meski demikian, Intan mengakui masih terdapat tantangan akses pendidikan terutama di wilayah terpencil dan daerah 3T. Ia optimistis melalui kolaborasi tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah daerah, Aceh berpotensi menjadi barometer pendidikan karakter nasional.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Federasi Serikat Guru Indonesia Pusat Eka Ilham menilai Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menyebut momentum ini menjadi refleksi untuk memastikan pendidikan Indonesia bergerak menuju keadilan dan berpihak pada peserta didik serta pendidik.

“Hari Pendidikan Nasional adalah sebuah momen refleksi kita semangat bahwa cita-cita pendidikan Indonesia ini. Apakah benar-benar bergerak menuju keadilan atau justru tertinggal oleh kebijakan yang tidak berpihak pada peserta didik dan pendidik,” ujarnya.

Menurut Eka, tema Hardiknas tentang partisipasi semesta dan pendidikan bermutu untuk semua harus menjadi arah moral pendidikan nasional. Ia menegaskan tema tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan, melainkan perlu diwujudkan dalam kebijakan yang berdampak nyata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....