23 Korban Tabrakan Kereta Bekasi Timur Masih Dirawat, 16 Luka Berat
- 29 Apr 2026 10:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- RSUD Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi masih merawat 23 korban kecelakaan tabrakan kereta api, dengan 16 di antaranya mengalami luka berat.
- Sebagian pasien luka berat telah menjalani operasi ortopedi, sementara lainnya masih dalam tahap observasi oleh tim dokter spesialis untuk menentukan tindakan lanjutan.
- Tim DVI Polri memastikan 15 jenazah korban di Bekasi Timur telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga melalui proses antemortem dan postmortem.
RRI.CO.ID, Jakarta - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasbullah Abdulmadjid (CAM) Kota Bekasi masih merawat 23 korban kecelakaan tabrakan kereta api. Dari total 53 pasien yang ditangani, tiga orang meninggal dunia.
Sementara itu, 25 pasien telah dipulangkan, dan tiga pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan lain. "Jadi sisanya yang kemarin update 53 pasien itu yang 3 meninggal kemudian ada 25 yang sudah pulang," kata Wakil Direktur Pelayanan Medis RSUD CAM Kota Bekasi, Sudirman dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 29 April 2026.
Menurutnya, dari 23 pasien tersebut, 16 di antaranya mengalami luka berat. Beberapa pasien telah menjalani operasi ortopedi akibat patah tulang pada bagian lengan dan paha.
Ia mengatakan, sebagian pasien lainnya masih dalam tahap observasi untuk menentukan kebutuhan tindakan medis lanjutan. Penanganan dilakukan secara intensif oleh tim dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), yang terdiri atas spesialis ortopedi, dan bedah umum–saraf.
"Sebagian sudah menjalani tindakan operasi oleh tim ortopedi. Sebagian masih dalam observasi untuk menentukan apakah perlu tindakan operasi lanjutan," ujarnya.
Kabid DVI Rodokpol Pusdokkes Mabes Polri Kombes Pol drg. Ahmad Fauzi mengatakan, sebanyak lima belas jenazah korban kecelakaan di Bekasi Timur telah diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing. "Alhamdulillah proses identifikasi telah selesai kami laksanakan dan semua jenazah sudah diberangkatkan ke kediaman masing-masing," kata drg. Ahmad.
Ia menjelaskan, proses identifikasi dilakukan secara bertahap sejak dini hari pascakejadian. Tim DVI mulai menerima jenazah pada pukul 03.30 WIB, kemudian bertambah hingga total 10 jenazah pada pukul 08.00 WIB.
Sebagian jenazah lainnya telah lebih dulu dibawa ke rumah sakit terdekat. Menurutnya, kondisi sejumlah jenazah yang diterima tim DVI cukup sulit dikenali karena tidak memiliki tanda pengenal.
Oleh karena itu, identifikasi dilakukan dengan metode komprehensif melalui pencocokan data antemortem dan postmortem. Tim DVI juga membuka posko pelaporan orang hilang untuk mengumpulkan data dari keluarga korban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....