Wamen ESDM Tekankan Kesiapan Listrik bagi Pertumbuhan Maluku dan Maluku Utara

  • 29 Apr 2026 11:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Menteri ESDM menekankan pasokan listrik harus siap sebelum kawasan ekonomi baru mulai beroperasi
  • Pemerintah mendorong pemerataan listrik hingga wilayah 3T untuk mendukung kesejahteraan masyarakat
  • PLN mencatat sistem kelistrikan Maluku dan Maluku Utara masih memiliki cadangan daya untuk kebutuhan mendatang

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjun kesiapan pasokan listrik harus mengiringi pertumbuhan ekonomi yang terus berkembang di Maluku dan Maluku Utara. Menurutnya, kebutuhan energi yang andal menjadi penopang utama bagi masyarakat dan kawasan industri baru di wilayah kepulauan.

Kunjungan tersebut dilakukan Yuliot saat mendatangi Kantor PT PLN Persero UP3B Maluku di Ambon, Selasa, 28 April 2026. Ia menilai perkembangan ekonomi daerah harus dibarengi perencanaan kelistrikan yang matang sejak tahap awal pembangunan.

Saat ini, sebanyak 889.973 pelanggan di Maluku dan Maluku Utara bergantung pada layanan listrik. Karena itu, pemerintah menilai keandalan pasokan harus terus dijaga agar aktivitas masyarakat tidak terganggu.

"Adanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru diperlukan persiapan ketersediaan energi. Khususnya di wilayah-wilayah yang dimungkinkan tumbuhnya industri-industri baru seperti di Weda Bay, Halmahera dan di Saumlaki kelak jika sudah beroperasi," ujar Yuliot saat berkunjung ke Kantor PT PLN (Persero) UP3B Maluku di Ambon, Selasa, 28 April 2026.

Yuliot mencontohkan Weda Bay di Halmahera dan Saumlaki sebagai wilayah yang diproyeksikan berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Menurutnya, kesiapan listrik akan menentukan seberapa besar manfaat ekonomi bisa dirasakan masyarakat setempat.

Selain kawasan industri, pemerintah juga menaruh perhatian pada kebutuhan listrik di desa terpencil kawasan timur. Wilayah yang sulit dijangkau dinilai tetap harus memperoleh pelayanan energi secara adil dan berkelanjutan.

"Dengan akan dibangunnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Maluku dan Maluku Utara, kami berharap jangan sampai terjadi kegiatan ekonomi sudah terbangun. Namun, pasokan listriknya belum tersedia sehingga terjadi delay", katanya.

Yuliot menilai akses listrik di wilayah tertinggal tidak boleh lagi tertunda setelah puluhan tahun kemerdekaan. Menurutnya, pemerataan energi harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional berkelanjutan.

"Wilayah 3T adalah benteng kita bersama. Ketika listrik hadir, di situ ada pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang bergerak, dan harapan yang tumbuh," ucapnya.

General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara Noer Soeratmoko menyampaikan sistem kelistrikan daerah terus membaik. Meski demikian, kondisi geografis kepulauan masih menjadi tantangan besar dalam distribusi energi di wilayah tersebut.

"Tantangan geografis wilayah kepulauan tetap menjadi perhatian, bagi kami dalam memastikan listrik yang andal dan merata. Ke depan kami berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah dalam memudahkan kegiatan energi serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyediaan listrik yang andal dan berlanjutan", ujarnya.

Saat ini, sistem kelistrikan di dua provinsi tersebut ditopang oleh 168 sistem yang saling terhubung. Daya mampu tercatat 457,15 MW dengan beban puncak mencapai 292,82 MW pada periode sekarang.

Di tengah percepatan pembangunan, listrik kini bukan hanya kebutuhan pendukung, tetapi menjadi dasar penting bagi kesejahteraan masyarakat. Saat pasokan listrik tersedia tepat waktu dan menjangkau seluruh warga, pembangunan dapat dirasakan manfaatnya secara nyata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....