Selat Hormuz Ditutup, Menteri ESDM Bahlil Lobi Iran terkait Kapal Pertamina

  • 20 Apr 2026 17:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bahlil Lahadalia bersama Kementerian Luar Negeri melakukan diplomasi dengan Iran terkait kapal Pertamina di Selat Hormuz.
  • Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran pasokan energi global.
  • Pemerintah berupaya menjaga kelancaran distribusi energi nasional di tengah eskalasi konflik geopolitik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi upaya diplomatik terkait kapal Pertamina di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus menjalin komunikasi intensif dengan pihak Iran mengenai posisi kapal Pertamina saat ini.

Bahlil menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sedang bekerja keras agar armada pengangkut energi tersebut dapat kembali berlayar. Menurutnya, jalur komunikasi diplomatik tetap dibuka secara lebar guna menyelesaikan persoalan teknis pada wilayah perairan tersebut.

“Kita terus melakukan komunikasi intensif dengan pihak dari Iran. Kolaborasi ESDM dengan Menlu itu juga kita lakukan terus, doakan ya,” ujar Bahlil saat ditemui di Jakarta, Senin, 20 April 2026.

Bahlil memilih untuk tidak membeberkan detail proses negosiasi yang sedang berlangsung kepada masyarakat luas demi efektivitas diplomasi. “Karena tidak semuanya harus kita sampaikan kepada publik, ini bicara geopolitik dalam kondisi seperti ini, ya boleh kita terbuka, tapi jangan terlalu banyak terbuka-terbuka,” kata Bahlil.

Adapun harga minyak dunia melonjak lebih dari tujuh persen pada Senin 20 April 2026. Ini menyusul penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran akibat konflik dengan Amerika Serikat (AS) yang memanas lagi.

Informasi penutupan muncul setelah kapal-kapal yang melintas menerima pesan radio dari Angkatan Laut Iran. Mereka menyatakan bahwa selat tersebut kembali ditutup dan tidak dapat dilalui oleh kapal dari negara mana pun.

“Perhatian seluruh kapal, terkait kegagalan pemerintah AS memenuhi komitmennya, Iran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup sepenuhnya,” ujar instruksi radio yang dikutip Reuters, Senin, 20 April 2026.

“Tidak ada kapal jenis apa pun atau dari negara mana pun yang diizinkan melintas di Selat Hormuz,” kata peringatan tersebut. Pernyataan ini jelas menimbulkan kekhawatiran kembali di kalangan pelaku pasar.

Harga minyak Brent naik USD6,56 dollar atau 7,26 persen menjadi USD96,94 per barrel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik USD6,07 menjadi USD89,92 per barrel.

Melonjaknya harga minyak ini dikarenakan AS dan Iran saling tuding terkait pelanggaran gencatan senjata. Kedua negara saling serang dengan menembak kapal yang berujung pada penutupan kembali Selat Hormuz.

Hal itu mengakibatkan pasar kembali khawatir terhadap pasokan energi global. Terlebih, Selat Hormuz merupakan salah satu rute inti pengiriman minyak dan gas dunia.

Bahkan, sentimen pasar juga sangat terpengaruh oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia. Termasuk penolakan Iran terhadap negosiasi damai baru dengan AS.

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan akan mengirim utusan untuk kembali bernegosiasi. Namun dia juga mengancam akan melancarkan serangan baru jika Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington.

Ketegangan meningkat setelah AS dilaporkan menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade. Akibatnya, situasi menjadi semakin keruh di kawasan tersebut.

Sebenarnya pada pekan lalu pasar sempat optimistis setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak turun hingga 9 persen karena pasar berharap konflik yang telah berlangsung tujuh minggu itu segera berakhir.

Namun, kondisi berubah cepat setelah selat kembali ditutup. Bahkan, perubahan kondisi terasa sekitar 12 jam setelah dibuka.

Ditutupnya Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia tersebut membuat kepanikan. Pelaku pasar kembali bersikap hati-hati terhadap risiko gangguan pasokan energi global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....